K-Pop: Good, Bad, Ugly

Posted: Selasa, 15 November 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

K-pop, alias Korean pop, alias Korean wave, alias Hallyu memang hebat. Demamnya melanda ke seberang, ke seluruh pelosok dunia: dari Amerika hingga Eropa; dari Rusia hingga Timur Tengah.
Istri saya fanatik 2PM. Avatar BBM-nya berganti-ganti foto Tae Cyeon salah satu dedengkot 2PM yang di tiap lagunya selalu kebagian ngerap. “Dia cakep, jago ngerap, dan humoris,” ujarnya tentang sang idola. Pengetahuannya A sampai Z tentang Tae Cyeon dan 2PM extraordinary. Dan tiap kali diajak ngomong 2PM matanya selalu berbinar-binar nyaris keluar dari kantungnya dan mulutnya nerocos sulit dihentikan, bicara supersemangat dan penuh passion. Itu sebabnya saya malas ngobrol dengan dia soal 2PM.

Hampir tiap saat ia meng-update informasi mengenai setiap personil 2PM melalui Twitter @Hottest, Facebook fanpage Hottest Indonesia, dan YouTube sehingga tak sedikitpun informasi mengenai boy band kebanggaannya itu terlewatkan. Yang belum tahu, Hottest adalah sebutan untuk para fans fanatik 2PM. Bahkan setiap Rabu lepas Magrib dia tekun belajar bahasa Korea melalui akun @Hottest yang secara khusus memberikan “kursus” bahasa Korea melalui Twitter.

Istri saya adalah potret fanatisme K-pop. Fanatisme yang sama dialami jutaan ABG di seluruh pelosok Tanah Air. “It’s the power of K-pop!!!

Bicara tentang K-pop saya punya tiga opsi: the good, the bad, dan the ugly. The good adalah kebaikan-kebaikan yang harus kita tiru dari K-pop. The bad adalah keburukan-keburukan yang harus kita hindari. Dan the ugly adalah kejelekan-kejelakan, yang kalau bisa jangan sampai terjadi di Tanah Air.

Buzzing Komodo!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Saya tak akan akan ambil pusing apakah yayasan New 7 Wonders bodong atau beneran. Saya tak akan terlalu peduli, apakah langkah Kementrian Pariwisata keluar dari ajang kontes Tujuh Keajaiban Dunia blunder atau justru menguntungkan. Saya juga tak akan mengurus apakah langkah pak Jusuf Kalla lebih benar atau justru kontraproduktif. Itu semua urusan mereka dengan pernak-pernik kepentingan di baliknya.

Yang jelas saya berbunga-bunga karena di balik buzz yang melingkupi voting pulau Komodo menjadi Tujuh Keajaiban Dunia, pulau ini telah menuai popularitas, ownership dari segenap anak bangsa, dan memicu rasa nasionalisme yang luar biasa. Itu membikin satu-satunya pulau yang menampung biawak super langka ini semakin moncer tak hanya di dalam negeri, tapi juga seantero jagad.

Jika Kementrian Pariwisata tidak mencabut keikutsertaan Indonesia di ajang ini; jika pak Jusuf Kalla tak “turun gunung” menggalang dukungan, atau jika tak ada kasus SMS premium, saya yakin voting pulau Komodo akan sepi-senyap tenggelam oleh gosip Ayu Ting Ting vs Rafie Ahmad.
Saya melihat buzz komodo hari-hari ini menggulir sempurna karena memiliki tiga kunci kesuksesan sebuah word of mouth marketing yaitu: story, controversy, dan genuinity.

Branding Rendang

Posted: Senin, 03 Oktober 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Bulan September kemarin rendang telah dinobatkan oleh CNNGo sebagai makanan terlezat sejagat. Kita sebangsa terhenyak: “Slompret!!! Boleh juga kuliner kita ya.” Hebat, rendang bisa mengalahkan Sushi (Jepang), Pizza (Italia), Tom Yum Goong (Thailand), Dim Sum (Hong kong), Croissant (Perancis).  

“Proud to be an Indonesian!”

Harus diakui, kita memang bangsa yang piawai membikin (bikin rendang, batik, reog, angklung) tapi celaka, kita tak pandai memasarkannya. Lebih celaka lagi, kita juga ceroboh menjaga bikinan nenek moyang. Itu sebabnya batik, reog, angklung, tari Pendet, lagu Rasa Sayange begitu gampangnya di-colong negeri tetangga. Begitupun kasus rendang ini. Kita bersukaria karena kuliner tanah Minang ini dinobatkan menjadi juara dunia kuliner, namun, justru perusahaan negeri tetangga yang mem-branding dan memasarkannya hingga ke Eropa.

Karena itu penobatan rendang sebagai kuliner terdahsyat sejagat harus dijadikan momentum untuk membuktikan bahwa kita adalah juga “bangsa marketer”. Lebih baik energi bangsa ini dihabiskan untuk memasarkan dan mengampanyekan rendang ke dunia, ketimbang untuk mengusili kasus Nazarudin, menggosipkan Malinda Dee, atau mementaskan sandiwara korupsi Kemenakertrans yang begitu menguras tenaga. 

“Lupakan politik, fokus ke kampanye rendang!!!”

Tulisan ini adalah catatan kecil saya mengenai bagaimana kita harus mem-branding-kan rendang dan kuliner Nusantara kita yang luar biasa potensinya. Semoga catatan kecil ini menginspirasi anak negeri.

Civilized Consumer

Posted: Kamis, 29 September 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Sulit saya menjelaskan apa itu “civilized”, tapi gampangnya saya mengambil contoh negara tetangga Singapura. Warga Singapura saya katakan civilized. Kenapa? Karena ketika mereka akan melintasi traffic light, saat lampu menyala merah, maka tak satupun dari mereka yang nyelonong seenaknya. Tak ada yang “curi start” dengan menggerombol di tengah-tengah perempatan seperti kebanyakan dilakukan pengendara sepeda motor di Jakarta.

Warga Singapura juga civilized karena mereka tak sembarangan membuang kertas atau puntung rokok di jalanan, itu sebabnya jalan-jalan di Singapura bersih bukan main. Bersih bukan karena banyak petugas dinas kebersihan yang siap memunguti serpihan sampah, tapi karena kesadaran tak membuang sampah sudah menjadi culture yang mendarah daging. Akhir tahun lalu saya mengintroduksi fenomena maraknya kemunculan konsumen kelas di Indonesia, yaitu apa yang saya sebut consumer 3000. Saya katakan di situ bahwa salah satu ciri dari konsumen gaya baru ini adalah bahwa mereka adalah konsumen yang lebih civilized. Kenapa begitu? Karena makin tingginya kemakmuran kelas menengah ini akan diikuti meningkatnya pengetahuan (karena akses informasi dan pendidikan yang kian besar), dan pada gilirannya diikuti terdongkraknya tingkat civilization mereka.

Ada hubungan yang tak terelakkan (inevitable) antara meningkatnya kemakmuran suatu negara dengan tingkat civilization warganya. Negara-negara yang sudah sangat makmur seperti Swiss, Kanada, Australia, juga Singapura memiliki warganegara yang sangat civilized. Di negara makmur baru seperti Thailand dan Malaysia kita melihat bahwa kemajuan mereka tak hanya sebatas meningkatnya kemakmuran ekonomis tapi juga terdongkraknya civilization.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sejak 5 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran Indonesia melesat bukan main. Konsumen kelas menenagah kita kini telah tembus 100 juta kepala. Tapi bicara civilization kita pantas bermuram durja.
Tambah makmur yes! Tambah civilized, no!
Berikut ini adalah gambaran tidak civilized-nya konsumen kita. Yuk kita cek satu-satu.  

Sales = Making Friendship

Posted: Rabu, 28 September 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

“More sales are made with friendship than salesmanship”
Ini adalah ungkapan menohok dari sales guru, Jeffrey Gitomer yang nempel dan terus mengiang-ngiang kuat di otak saya. Bahkan sejak sekitar 10 tahun lalu saat saya memutuskan untuk nyemplung di dunia penjualan, saya meyakini keampuhan ungkapan tersebut. Siapa bilang seorang salesman nggak butuh salesmanship.

Siapa bilang seorang salesman nggak perlu keahlian dalam prospecting, presenting, negotiating, dan closing. Itu semua wajib dikuasai agar Anda menjadi sales superstar. Namun di atas itu semua, Anda harus melandasinya dengan selling mentality yang adiluhung yaitu: making friendship. Trust 1000% saya memercayai prinsip bahwa “roh” jualan adalah mencari teman dan membangun pertemanan, bukan sebatas menguasai teknik-teknik penjualan.

Kenapa? Begitu menjadi teman, maka si pelanggan dengan sendirinya akan men-trust Anda. Dan dengan bekal trust, maka proses jualan Anda akan menjadi begitu mudah. Pelanggan menjadi begitu pengertian, tidak usil dengan kesepakatan harga, menjadi pemaaf jika kita melakukan kesalahan, dsb-dsb.

Artinya, di titik ini sesungguhnya Anda tak perlu lagi teknik-teknik penjualan yang canggih. Salah satu ciri Anda sudah bisa menyulap pelanggan menjadi teman adalah jika negosiasi atau tawar-menawar harga sudah tidak relevan lagi. Tawar-menawar harga di dalam pertemanan sudah tidak penting lagi karena antara Anda dan pelanggan terjadi saling pengertian dan saling percaya. Pada saat Anda mengajukan harga, maka pelanggan meyakini 1000% bahwa Anda memberikan harga yang terbaik, bukan harga manipulasi, bukan harga mark-up, bukan pula harga yang menjerumuskan.

Dengan landasan trust, pelanggan akan percaya penuh bahwa sebagai teman Anda tak akan memperdaya, menipu-muslihat, memanipulasi mereka. Mereka akan yakin bahwa Anda akan selalu berpikir dan berbuat yang terbaik untuk mereka. It’s the power of friendship.  

Mall Is the Killer App, How About CU?

Posted: Rabu, 27 Juli 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
2

Apa kabar Credit Union?

This article on how CU could be a 'killer' or even 'killed'!

Istilah killer app sering dipakai di dunia inovasi teknologi untuk menggambarkan produk/teknologi lama yang tergantikan (istilah kejamnya: 'dibunuh' atau 'dihabisi') oleh produk/teknologi yang lebih baru. Mesin ketik 'dibunuh' oleh komputer pribadi (dengan program Wordstar-nya waktu itu). Koran, majalah, dan buku cetak 'dihabisi' pelan-pelan oleh portal berita, blog, dan ebook. iPod dengan iTunes-nya menjadi killer app bagi perusahaan rekaman dan toko-toko CD seperti Disc Tara atau Aquarius. Bahkan kantor pos 'dibunuh' oleh yang namanya SMS!

Tapi bagaimana ceritanya mal kok menjadi killer app? Ya, ini setidaknya berdasarkan pengamatan saya keseharian. Kian lama mal semakin mengambil begitu banyak aktivitas keseharian kita. Begitu memikatnya mal, sehingga kita kian tak berdaya 'terhisap' ke dalamnya. It’s the center of our life.

Terus terang, saya adalah pecinta mal. Ya, karena dorongan istri (yang dipengaruhi anak-anak, sebagai 'the great infleuncer'), hampir tiap minggu saya ke mal, bahkan bisa beberapa kali seminggu. Berbeda dengan kebanyakan orang yang ke mal kesurupan berbelanja, saya ke mal untuk memata-matai orang kesurupan berbelanja.

Nah, sekian lama mengamati denyut kehidupan mal, saya melihat ekspansi (tepatnya 'hegemoni' atau 'penjajahan') mal ini semakin merajalela dalam menyusupi dan merasuki seluruh aspek kehidupan kita masyarakat urban. Ide awalnya, mal tak jauh beda dengan pasar Inpres, yaitu tempat untuk kita berbelanja kebutuhan. Tapi dalam perjalanannya, mal kemudian menjajah seluruh sisi kehidupan kita. Singkatnya, apapun aktivitas kita saat ini dilakukan di tempat 'keramat' bernama mal. Coba kita lihat.

McD Merakyat!!!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Tulisan ini bukan salah judul. Memang, di Indonesia kalau kita bicara 'makanan merakyat' tentunya bukan Big Mac, tapi nasi pecel, rujak cingur, atau bakso Malang. Kalau kita bicara 'warung merakyat' tentunya warung Tegal, warung Padang, atau warung nasi kucing-an di Yogya-Solo; bukan McDonald’s.

So, apa relevansinya judul tersebut? Ada apa dengan McD?

Setidaknya ini pengamatan saya terhadap gerai fast food ternama dari negeri Paman Sam yang sudah berada di sini persis 20 tahun tersebut. Saya melihat tren, di satu sisi McD terlihat semakin mendekatkan diri dengan masyarakat luas berbagai kalangan tak hanya kalangan atas (seperti saat gerai ini masuk ke Indonesia), tapi juga ke kalangan menengah (yes...Consumer 3000) dan bahkan kalangan bawah. Harus diingat di negeri asalnya sono, McD memang adalah warung merakyat yang menjangkau semua kalangan masyarakat baik atas, tengah, maupun bawah.

Di sisi lain, masyarakat kita mulai bergeser pola pikir dan 'pola makan'-nya, tidak melihat brand-brand dari negara maju (McD, Coca-Cola, Starbucks, Sony, Mercedes Benz) sebagai sesuatu yang 'wah' lagi seperti dulu. Brand-brand itu sudah menjadi household brand yang menjadi keseharian kita; sesuatu yang biasa dan tak lagi menjadi alat untuk mendongkrak image. Saya kira Coca-Cola adalah salah satu contoh brand yang sebelumnya telah berhasil 'merakyatkan diri' di Indonesia.

Saya masih ingat pada saat McD pertama kali masuk Yogya saat saya masih sekolah di Magelang sekitar 15 tahun lalu, mau masuk McD saja nggak pede alias minder. Ya karena saya masih terpana melihat brand hebat yang datang dari negara super power hebat. Tapi kini, McD di Malioboro Mall sudah menjadi 'tempat umum' yang disambangi semua kalangan atas maupun bawah.

Proses 'merakyatnya' McD ini saya amati makin intensif 2-3 tahun terakhir seiring dengan makin banyaknya jumlah konsumen kelas menengah kita (saya sering menyebutnya middle class consumer atau Consumer 3000) yang menjadi core customer McD, khususnya di perkotaan (Jakarta dan kota-kota besar provinsi). Mereka adalah konsumen yang memiliki daya beli cukup lumayan (pengeluaran di atas $2/hari) dengan sekitar 100 juta mulut. Pasar dengan daya serap yang sangat besar inilah yang memuluskan McD dalam menjalankan strategi 'merakyat'-nya.

Apa saja indikasi dari semakin merakyatnya McD ini? Coba kita amati sinyal-sinyal berikut.

You Are a Media Company

Posted: Senin, 04 Juli 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Tulisan ini mestinya sudah ter-upload beberapa waktu lalu, tapi karena ada kesalahan teknis, maka 'terpaksa' saya share ulang pada sahabat sekalian.

Ketika Anda punya blog; ketika Anda punya akun Facebook; ketika Anda punya akun Twitter; ketika Briptu Norman menjadi mega bintang dalam semalam oleh situs ajaib bernama YouTube; maka secara resmi Anda telah menjadi 'MEDIA COMPANY'.

YOU are a media company. YOU are as powerful as media giant like Kompas or CNN.


Apa bedanya Anda dengan Kompas atau CNN? CNN menyiarkan berita revolusi Mesir KE SELURUH DUNIA!!! Anda menyiarkan twit-twit Anda (twit apa saja: belasungkawa tsunami Jepang, skandal Ariel Peterpan hingga menjadi trending topic dunia, atau komentar laga Barca vs MU) KE SELURUH DUNIA!!!

Kompas memberitakan Nazarudin dan Neneng yang ngumpet di Singapura KE SELURUH TANAH AIR!!! Anda menggulirkan viral berita #petimati KE SELURUH TANAH AIR!!!

Lalu apa bedanya Anda dengan Kompas atau CNN?

Yup!!!
Ketika media menjadi demikian murah, mendekati zero; Ketika alat-alat untuk memproduksi konten demikian murah, mendekati zero; ketika media gratis seperti Facebook, Twitter atau YouTube memungkinkan Anda menjangkau audiens di manapun di muka bumi ini; maka tak terelakkan lagi, Anda telah sahih menjadi MEDIA COMPANY!!!

'OKB' - Orang Kaya Baru

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
2

Apa kabar sahabat CU, manusia baru?

Saya melihat 'mahluk baru' bernama 'OKB' alias orang kaya baru begitu marak bermunculan di Jakarta dan kota-kota besar di negeri ini sejak 5 tahun terakhir ini. Kolom ini saya tulis di cafe Strabucks di sebuah kota, kemarin sore, sehingga sambil merangkai kata dan analisa saya langsung melihat dan mengamati 'on the spot' bagaimana konsumen OKB ini “beraksi” berburu diskon di tengah Great Sale yang kini sedang menjadi demam di banyak kota saat ini.

Seperti halnya di Cina, Indonesia yang kini sedang bergerak menjadi negara maju baru (new emerging countries) seiring terlampauinya GDP perkapita $3000 (2010) akan menghasilkan banyak OKB. Mereka adalah konsumen kelas menengah baru ('new middle class consumers' atau saya menyebut mereka 'consumer 3000') dengan kemampuan daya beli yang tinggi. Mereka membelanjakan uangnya (disposable income) tak hanya untuk produk kebutuhan sehari-hari tapi juga produk-produk sekunder bahkan mewah seperti gadget, mobil, branded fashion, atau liburan ke luar negeri.

Di Cina, konsumen kelas menengah-atas (dengan pengeluaran $10 perhari) kini sudah mencapai lebih dari 300 juta orang dan Cina merupakan negara dengan pertumbuhan OKB paling tinggi di seluruh dunia. Saat ini Cina merupakan pasar ketiga terbesar untuk produk-produk mewah (luxury product) seperti LV, Armani, atau Hugo Boss yang tumbuh 17-20% konsisten tiap tahun. McKinsey bahkan meramalkan tahun 2015 Cina akan menjadi pasar produk mewah terbesar di dunia yang menguasai sekitar 20% pangsa pasar.

Indonesia akan menikmati “panen besar” OKB seperti halnya yang terjadi di Cina seiring dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi di era consumer 3000. OKB dalam judul kolom ini sengaja saya beri tanda kutip, karena mereka bukanlah orang kaya baru yang sesungguhnya. Mereka belum kaya-kaya amat, tapi lagak dan gaya hidupnya sudah seperti orang kaya. Konsumen jenis inilah yang begitu banyak saya temui di mal-mal, di supermarket-supermarket, atau di kantor-kantor. Jumlah mereka bakal terus membesar.

Bagaimana perilaku membeli dan konsumsi mereka? Berikut ini adalah sebagian di antaranya, yang saya dapatkan dari pengamatan sehari-hari saya.