Tampilkan postingan dengan label The Meaning of Management. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Meaning of Management. Tampilkan semua postingan

Corporate Culture = Diferensiasi Di Tingkat Organisasi

Posted: Rabu, 08 Januari 2014 by R. Anang Tinosaputra in Label: ,
0

Apa yang membedakan sebuah credit union dari credit union dan perusahaan lain? Tentu saja jawabannya misi dan visinya. Kalau mau ekstrem, apa bedanya antara organisasi mafia dan red cross? Wow jauh sekali, kan?

Misi yang satu nggak peduli ‘kemanusiaan’, sedangkan yang lain sangat peduli. Visinya juga pasti berbeda. Yang satu, mungkin ingin ‘menguasai’ kota tertentu, sedangkan yang satunya lagi bagaimana ‘memanusiakan’ kota tertentu.

Tapi, selain misi dan visi, ada satu lagi yang biasanya gampang ‘dikenali’ orang luar. Misi dan visi suatu organisasi atau perusahaan biasanya hanya diketahui ‘orang dalam’, itu pun belum tentu. Tapi, kalau values atau nilai-nilai suatu organisasi sering ‘terbedakan’ dari corporate culture-nya.

Pakailah TOWS, Bukan SWOT!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label: ,
0

Ketika menulis buku pertama dengan Mas Yuswohady pada 2007-2008, saya mendapat kesempatan memopulerkan Model Credit Union Marketing. Konsep 4C dan Sembilan Elemen Marketing sudah saatnya dimodifikasi supaya lebih praktis lagi.

Supaya lebih gampang dimengerti juga!
Kan tugas saya bukan 'mempersulit' sesuatu yang sebenarnya 'mudah'. Tapi, justru 'mempermudah yang susah'. Ada tiga hal yang saya lakukan untuk simplification itu.

Mochtar Riyadi: Entrepreneur, Financier, and Marketer!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Saya selalu kagum pada Pak Mochtar Riyadi yang bos Lippo itu. Saya banyak belajar dari dia. Dialah yang membantu Om Liem untuk membesarkan Bank Central Asia atau BCA.

Waktu itu Mochtar Riyadi memelopori Tahapan. Sangat sukses!
Itu mengambil kesempatan ketika Tabanas yang punya pemerintah tidak menarik. Maka, dialah yang mulai dengan Tabungan dengan hadiah ‘besar’.

Kelihatan besar, tapi kecil secara persentasi ketika omzet sudah sangat besar.

Namun, dari permulaan, dia sudah yakin bahwa penabung Indonesia itu memang suka undian. Apalagi ketika itu banyak orang yang ‘mimpi jadi cepat kaya’ dan tidak sadar bahwa kemungkinan menangnya kecil.

Tapi, itulah ‘basic instinct’ orang Indonesia.

What They Teach Me at Harvard Business School

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Harvard Business School (HBS) punya kontribusi tersendiri bagi saya dalam membangun hidup saya. Saya bukan lulusan sekolah bisnis paling tenar di dunia itu. Saya pun baru sekali ke sana, itupun karena diundang untuk ikut Executive Education Program, ikut Program for Case Methodology and Participant Cantered Learning, sampai ke diskusi dan makan siang dengan beberapa profesor di sana.

Namun dari sana, saya jadi pernah ikut Alumni Conference mereka di Tokyo sekitar 2-3 tahun lalu. Saya bisa berada di forum itu karena pernah mengikuti program eksekutif dua minggu "Strategic Marketing Management". Smart, kan? Dengan melakukan seperti itu, saya bangga karena dianggap sebagai alumni Harvard, sehingga dapat image lebih hebat lagi.

Eat, Sleep, and Dream with Your Business!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Pada akhir 1980-an di Indonesia memang sudah terasa semakin kencangnya ‘arus globalisasi’. Jadi, hal itu bukan hanya karena buku-buku dunia menulis tentang hal itu. Pak Harto sendiri yang masih ‘sangat kuat’ setelah berkuasa sejak 1967 memberikan sinyal itu. ‘Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, Indonesia akan mengalami globalisasi.’ Seperti itu kira-kira ucapan Pak Harto yang berupaya untuk mengingatkan setiap pelaku pasar.

Inilah hebatnya Pak Harto sebagai the real businessman.

Mereposisi Diri Pada Situasi yang Berbeda

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Walaupun hanya mendapatkan job untuk memberikan pelatihan kepada teman-teman karyawan credit union di satu credit union di Pasuruan, di awal karier saya sebagai konsultan, itu sudah cukup bagus. Saat menangani job itu, selama setahun saya harus keliling Jawa, mengunjungi seluruh region yang dulu saya buat strukturnya.

Saya tahu persis apa yang mereka sudah tahu dan jago. Dan, apa lagi yang sebenarnya mereka butuhkan. Mereka adalah para ‘jago lapangan’, mulai tingkat salesman, supervisor, hingga manajer.

Karyawan Bermental Pengusaha, Pengusaha Berjiwa Karyawan

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Satu hal yang saya lihat konsisten pada diri Pak Ciputra sejak dulu sampai sekarang ialah entrepreneurship. Beliau percaya bahwa inilah yang akan membawa Indonesia maju. Tanpa entrepreneurship, sebuah negara tidak akan maju.

Menurut Pak Ciputra, paling tidak lima persen penduduk sebuah negara haruslah berjiwa pengusaha. Jadi pengusaha sungguhan atau tetap bekerja pada orang lain, tapi punya jiwa pengusaha. Buat saya, kalau Anda karyawan tapi menganggap perusahaan tempat Anda bekerja sebagai perusahaan sendiri, dampaknya akan lain. Bukan cuma pada perusahaannya, tapi terutama pada diri sendiri. Itu yang kurang disadari orang.

Banyak yang berpikir bahwa dia merasa ‘rugi’ kalau menganggap perusahaan tempat dia bekerja kayak perusahaan sendiri. ‘Kok enak… rugi dong aku… nanti aja kalau aku sudah punya perusahaan sendiri, baru begitu…’ Itu alasan orang yang tidak mau jadi intrapreneur.

Pak Ci ‘mengajarkan’ kepada saya bahwa orang seperti itu rugi sendiri. Tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Memang, harus diakui, tidak semua perusahaan memberikan kesempatan kepada Anda seperti itu. Harus diakui, susah juga kalau Anda bekerja di divisi produksi, operasi, atau administrasi yang rutin.

Grow with Excellence, Professionalism, and Character

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ada sebuah buku yang menginspirasi saya. Judulnya? ‘Every Business is a Growth Business!’ Di dalam buku itu dikemukakan hasil riset si pengarang. Basically, temuannya hanya dua.

Pertama, bisnis yang tidak tumbuh akan mati!
Kenapa? Sebab, pesaingnya tumbuh dan akan mempunyai better bargaining position. Pelanggan juga nggak suka pada perusahaan yang stagnan. Tidak berkembang dan tidak punya inovasi. Mereka pasti pindah ke pesaing yang lebih kreatif.

Alasan berikutnya, ada tekanan dari dalam. Karyawan merasa tidak punya masa depan. Yang bagus akan keluar, sedangkan yang ‘kartu mati’ atau deadwood pasti tetap tinggal. Karena itu, kalau mau sustainable, sebuah perusahaan harus grow.

Kedua, pertumbuhan itu harus disertai kualitas. Jangan hanya mengejar top line atau market share. Bottom line atau profit bersifat penting supaya pertumbuhan jadi sehat. Karena itu, mesti ada profitable growth. Pertumbuhan ditopang dengan kekuatan untuk tumbuh terus!

Nah, di credit union, saya sangat mempercaya akan kata ‘grow’. Credit union harus grow, tapi semua CUer (istilah saya untuk insan-insan credit union) harus grow juga. Tanpa itu semua, credit union tidak bisa bertahan dua puluh tahun atau lebih! Buat saya, grow dengan kualitas hanya bisa terjadi kalau excellent jadi pegangan semua orang. Kalau grow with excellence, kita bisa mencapai excellent growth.

Keep Your Focus!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Godaan untuk tidak focus dalam bisnis selalu datang, terutama ketika Anda mulai sukses dalam mengembangkan bisnis pertama. Apalagi, ada beberapa contoh perusahaan besar yang disebut konglomerat. Semua punya mimpi bisa menjadi seperti itu.

Kwik Kian Gie bahkan pernah membuat buku ‘Mimpi Jadi Konglomerat!’. Di buku itu, Kwik yang sangat nasionalis itu mengkritik habis-habisan konglomerat Indonesia yang masuk di segala bidang. Bukan karena kompetensi tapi lebih dari KKN! Karena ‘dekat’ dengan pengusaha, makanya dapat ‘privilege’ macam-macam.

Ini terjadi di zaman Pak Harto dulu. Tapi, Pak Harto juga mempunyai alasan tersendiri. Untuk membangun negara di saat Orde Baru yang masih compang-camping, lebih baik, peran untuk membuat komoditas vital diberikan kepada pengusaha yang pasti bisa. Maksudnya bisa itu, punya akses ke luar negeri. Untuk dapat teknologi, modal, dan manajemen.

Karena itulah, Salim Group lantas diberi ‘tugas’ untuk membuat tepung terigu Bogasari, bikin semen lewat Indocement, dan sebagainya. Karena mengandung risiko, logikanya investasi harus dilindungi dengan monopoli. Tapi, kemudian yang model seperti ini kan merambat kemana-mana. Karena itu, waktu Orde Baru, Kwik menyebutnya sebagai bisnis untuk ‘family and friends’!

Speedy Gonzales Strategy

Posted: Minggu, 10 November 2013 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

“Kecepatan akan menjadi kunci dari kemenangan Anda dalam persaingan pasar. Bukan lagi siapa yang kuat, dialah yang akan menang tapi siapa yang cepat dia yang akan keluar sebagai pemenang...”

Waktu adalah uang…
Waktu adalah bisnis…
Waktu adalah produktivitas…
Waktu adalah inovasi dan kreativitas…
Waktu adalah sumber kenyamanan…
Waktu adalah sumber kemenangan…

Inilah berbagai jargon yang banyak dinyatakan dan diyakini oleh para pelaku bisnis di seluruh dunia. Intinya, perusahaan dan para pelaku bisnis sangat percaya bahwa waktu adalah sumber diferensiasi. Percayakah Anda akan hal ini?

Perusahaan akan memenangkan persaingan karena kualitas, biaya, dan kecepatan dalam merespon pasar. Contoh perusahaan yang memenangkan persaingan karena waktu sangatlah banyak. Yang mugkin paling sering didengar adalah kemenangan Toyota terhadap perusahaan-perusahaan otomotif Amerika yang banyak bermarkas di Detroit.

Pada dekade 1990-an, Toyota hampir unggul di semua lini. Untuk memproduksi sebuah mobil baru, Toyota membutuhkan waktu 3 tahun dan Detroit selama 5 tahun. Untuk membuat sebuah produk hingga menjadi produk jadi, Toyota membutuhkan waktu 2 hari dan Detroit selama 5 hari. Untuk memenuhi kebutuhan dealer, maka Toyota membutuhkan waktu selama 1 hari dari sejak order diterima, dan Detroit selama 5 hari. Total pergantian stok untuk dealer Toyota adalah 16 kali per tahun, sementara dealer dari merek-merek mobil Detroit adalah 8 kali per tahun. Karena kecepatan ini, kita kemudian mengenal sebuah model yang disebut dengan just in time. Hingga sekarang, model ini telah memberikan inspirasi kepada seluruh perusahaan di seluruh dunia.

Akhirnya, pada tahun 2007 ini, kita melihat Toyota telah menjadi produsen terbesar di seluruh dunia. Angka-angka yang diperoleh pada dekade 1990-an, dalam kurun waktu 15 tahun kemudian, telah menjadi sebuah kemenangan besar di pasar. Inilah perusahaan yang telah memperlihatkan betapa pentingnya waktu untuk memenangkan persaingan pasar.

Kalau kita membeli saham Southwest Airlines di tahun 1990, maka hari ini, kita akan mendapatkan gain sebanyak 15 kali lipat. Bila pada tahun yang sama Anda memutuskan untuk membeli saham perusahaan penerbangan lainnya seperti Delta, Northwest, United Airlines atau American Airlines, maka harga saham Anda tidak akan berbeda atau bahkan ada yang berkurang nilainya. Southwest Airlines adalah perusahaan yang hanya fokus kepada tiga hal, yaitu melayani penerbangan yang berjarak pendek tetapi dengan schedule yang banyak, pelayanan yang berkualitas dan kecepatan.

Dalam hal kecepatan, Southwest Airlines hanya membutuhkan ground time sekita 20 - 25 menit untuk mengisitirahatkan pesawatnya sebelum terbang lagi. Ini terjadi karena penanganan nomor kursi tempat duduk lebih efisien, sementara pelayanan di pesawat dan pelayanan ekstra lainnya yang tidak penting dieleminasi. Bandingkan dengan American Airlines yang membutuhkan ground time selama 55 menit. Selisih waktu 30 menit inilah yang digunakan oleh Southwest Airlines untuk terbang di udara dan memperoleh revenue dan profitabilitas per pesawat yang lebih tinggi. Kecepatan ini juga ditopang oleh kekuatan dari para top management untuk menciptakan budaya bekerja yang lebih cepat.

Deretan contoh perusahaan global yang memenangkan persaingan karena kecepatan, sangat banyak. Fedex dan DHL sulit ditembus dominasinya karena kedua perusahaan ini sangat fokus untuk membuat pelayanan yang secepat mungkin. Bila Anda pernah menonton film Castaway yang dibintangi oleh Tom Hanks, terlihat jelas film ini disponsori oleh Fedex, yang ingin menceritakan kepada dunia, betapa pentingnya bekerja secara cepat.

Salah satu iman dari Google adalah fast, fast and fast. Mereka harus membuat search engine yang bekerja dengan sangat cepat. Kecepatan inilah yang akhirnya membuat Google mampu meninggalkan para pesaingnya sebagai hunter site paling ‘jago’.

Ekspansi, Kepercayaan, dan Inspirasi

Posted: Senin, 04 November 2013 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

‘Capacity expansion is one of the most significant strategic decisions faced by firms, measured both in terms of the amount of capital involved and the complexity of the decision-making problem... Capacity decisions require the firm to commit resources based on expectations about conditions far into the future’. (Michael E. Porter, Competitive Strategy: Techniques for Analyzing Industries and Competitors, 1980)

Ironis, ketika banyak negara mengecam AS dengan mengklaim diri sebagai anti-imperialis, anti-hegemoni, anti-monopoli, Christianto Wibisono (The Global Nexus, 2007) melaporkan, orang yang berteriak anti AS ternyata duitnya malah di taruh di Wall Street. Malah, negara-negara yang secara politik mengecam AS, mendukung dan membenarkan ‘teror’, dalam hati kecil juga masih merasa aman menaruh duit di AS. Mereka masih percaya bahwa gubernur bank sentral AS tidak akan korupsi atau KKN. Terlebih dari itu, mereka percaya bahwa lembaga hukum di AS berfungsi secara imparsial dan independen. Sehingga, biarpun bank sentral AS cuma memasang tarif suku bunga yang kecil (2 – 4%, bahkan 1% di tahun 2003) ada sekitar US$ 4 triliunan harta milik dunia disimpan di AS.

Jika mengacu pada teori Capacity Expansion-nya Michael Porter, maka salah satu syarat untuk berkembang telah terpenuhi, yaitu akumulasi amount of capital. Dilengkapi dengan kompetensi bangsa dalam metodologi pemecahan masalah (problem-solving methodology) yang dilandasi sikap rasional, asas keadilan dan kematangan berdemokrasi, bakal menumbuhkembangkan saling percaya ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Akibatnya, dinamika wacana intelektual dan praksis sosialnya terus berputar ke atas (spiral-up movement).

Di tataran makro maupun mikro pada galibnya esensi pembangunannya tak jauh berbeda. Manakala pertumbuhan bisnis dilandasi pembangunan kultur yang pada ujungnya membuat perusahaan jadi layak dipercaya (trustworthy), dan bisa jadi model serta inspirasi yang membuat banyak pihak ingin mengemulasinya, maka organisasi ini sesungguhnya sudah menjadi asset bangsa. Pada gilirannya bangsa yang bisa menginspirasi bangsa lain adalah asset internasional.

… that a nation’s well being, as well as its ability to compete, is conditioned by a single, pervasive cultural chararacteristic: the level of trust inherent in society’. (Francis Fukuyama, Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity, 1995).

Saya Punya Ide...

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Joni duduk termenung di salah satu sudut ruang kantornya. Dalam benaknya berseliweran sejumlah gagasan tentang bagaimana melakukan terobosan dalam pekerjaan, perusahaan, serta karier dan kehidupannya sendiri. Sebenarnya ia kerap ‘meluncurkan’ ide-idenya kepada pimpinan, tetapi sayangnya jarang diterima atau bahkan ditanggapi.

Apa sebenarnya pokok permasalahannya? Apakah idenya jelek? Tidak juga. Banyak ide yang bagus dan brilian, namun justru tidak dilakukan dengan benar. Kalau sudah begitu, ide yang bagus tadi menjadi terbuang percuma. Sungguh sayang… Ide yang hanya terpendam di kepala tidaklah berguna.

Sejatinya mempunyai ide itu bagus, sedangkan menawarkan atau mengutarakan kepada pihak lainlah yang menjadi tantangannya. Tak bisa dimungkiri, banyak orang takut mengemukakan ide yang dipikirkannya. Bayangan akan penolakan sudah lebih dulu muncul dan telah menggurita di sana sini. Akibatnya, mereka takut kalau ide yang dianggap brilian itu justru ditolak mentah-mentah oleh orang lain. Padahal, mempunyai pikiran yang positif itu teramat penting. Berpikir positif akan membuka kesempatan untuk mengutarakan atau menawarkan ide-ide yang kita temukan. Ide adalah produk yang berasal dari inspirasi, kreativitas, dan kerja keras Anda sendiri.

Memang, tidak ada formula khusus untuk mem-pitching-kan ide Anda. Tetapi, penting sekali untuk diingat bahwa proses dan persiapannya membutuhkan waktu yang lebih panjang daripada waktu yang diperlukan untuk mempresentasikan ide tersebut. 

Tip-tip berikut mungkin bisa membantu untuk mengeluarkan ide-ide yang tengah terkubur di dalam pikiran Anda. Sehingga, Anda dapat mempresentasikan dengan efektif dan semoga dapat diterima dengan baik oleh pihak lain.

2AM @ 7-Eleven

Posted: Rabu, 25 Januari 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi lebih lima menit. Suasana lantai dua 7-Eleven Kelapa Gading hangat. Saya (yang kesempatan itu diajak seorang teman) cari tempat duduk di bawah, tak satupun kursi kosong tersisa. Naik ke lantai dua, nyaris semua meja terisi. Untung masih ada satu-dua kursi yang menghadap jendela kosong. Suasana agak gaduh, sebagian besar ABG. Ada yang lagi chit-chat, mengerjakan tugas kuliah, ada yang serius meeting, ada yang baca novel Harry Potter seri terbaru, tak ketinggalan, ada juga yang bengong.

Saya sudah nggak muda lagi, tapi boleh dong berlagak ABG. Karena itu saya pesan Chitato plus mengambil keju cair yang disediakan gratis. Kelakuan kampung saya keluar, itu keju diambil sebanyak mungkin untuk melumuri keping-keping Chitato renyah. Untuk pilihan minum, favorit saya adalah soda beku khas 7-Eleven, Slurpee aneka rasa yang diaduk warna-warni. Cool. Di tengah lautan ABG saya serasa 15 tahun lebih muda.

Itulah potongan laporan pandangan mata saya beberapa waktu lalu di tempat nongkrong ABG paling keren di Jakarta saat ini. Dari 3 kali nongkrong (kebetulan saya 3 hari di Jakarta dan 3 hari berturut-turut diajak ke tempat ini) di 7-Eleven dan bergumul dengan konsumen on the spot, saya menemukan banyak insight menarik mengenai gerai pendatang baru ini. Terus-terang saya penasaran kenapa 7-Eleven menjadi magnet yang luar biasa bagi konsumen.

Mallism

Posted: Kamis, 05 Januari 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Mallism atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “malisme” adalah istilah rekaan saya mengenai sebuah kepercayaan di kalangan kaum urban dalam memanjakan keinginan (wants) dan kebutuhan (needs) mereka di tempat keramat nan eksotik bernama mal. Istilah ini diilhami dari kata “animisme” (animism) dan “dinamisme” (dynamism) yang begitu saya hafal saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar di kampung.

Kenapa saya hafal? Karena pertanyaan, “Apa beda animisme dan dinamisme?” selalu saja keluar di setiap ujian mata pelajaran sejarah. Dan setiap kali pertanyaan itu keluar, saya selalu tepat menjawabnya. Anda penasaran ingin tahu jawaban itu? Setiap kali ujian multiple choice, jawaban cespleng inilah yang selalu saya pilih: “Animisme percaya pada roh-roh, sedang dinamisme percaya pada kekuatan gaib.”

Pada waktu SD dulu, guru sejarah saya mengajarkan bahwa di dalam animisme-dinamisme selalu ada kepercayaan yang diyakini pemeluknya, misalnya kepercayaan akan roh dan mahluk gaib. Di dalam animisme-dinamisme juga ada pemujaan, misalnya pemujaan kepada pohon keramat atau batu besar. Di dalam animisme-dinamisme juga selalu ada ritual-ritual, misalnya upacara persembahan berhala atau ritual pemberian sesaji.

Kalau animisme-dinamisme diikuti oleh manusia super-primitif, maka malisme dianut manusia super-modern, super-canggih, super-hedonis. Kalau animisme-dinamisme tumbuh subur di jaman paleolitikum, maka malisme tumbuh subur di jaman consumer 3000… sebut saja jaman “maleolitikum”. Di tengah perbedaan tersebut, animisme-dinamisme dan malisme memiliki persamaan mendasar. Ya, karena keduanya sama-sama memiliki tiga elemen: kepercayaan, pemujaan, dan ritual yang begitu khusu dijalankan para penganutnya.

Entrepreneur Nasionalis

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Oktober 2010 untuk pertama kalinya guru saya Mas Siwo (Twitter: @yuswohady) memperkenalkan istilah Consumer3000 dan sejak itu di mana-mana (di seminar-seminar, di Twitter, di diskusi-diskusi, ngobrol dengan klien, di manapun) saya pun ikut-ikutan bicara memperkenalkan terminologi baru itu. Angka 3000 diambil karena angka tersebut merupakan angka ambang batas (treshold) GDP perkapita dimana suatu negara akan mencapai akselerasi perkembangan ekonomi (accelerated development) yang luar biasa. Harap diketahui sejak akhir tahun 2010, untuk pertama kali dalam sejarah negeri ini kita melampaui angka tersebut.

Angka itu sekaligus juga menjadi treshold mulai siknifikannya jumlah kelas menengah di Indonesia. Saat ini jumlah mereka (menurut Bank Dunia dengan kriteria pengeluaran $2-20 perhari) telah mencapai 134 juta, lebih dari 50% jumlah penduduk kita. Jumlah kelas menengah yang siknifikan akan menjadi pendorong perkembangan ekonomi yang luar biasa. Lapis kelas menengah yang kokoh ini memilki peran strategis baik dari sisi konsumsi (demand) berupa terbentuknya pasar yang besar, maupun dari sisi produksi (supply) karena mereka berpotensi menjadi entrepreneur yang menjadi driver pertumbuhan.

Nasionalisme Konsumen

Posted: Rabu, 21 Desember 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Nasionalisme bukan hanya monopoli pejuang 45. Konsumen juga punya nasionalisme. Bahkan harus memiliki super nasionalisme ketika bangsa ini mulai merayap menjadi bangsa besar. Penduduk kita sudah mencapai 240 juta kelima terbesar di dunia, GDP kita telah mencapai Rp 7.500 triliun dan tahun lalu untuk pertama kalinya dalam sejarah kita melampaui angka ambang batas GDP/kapita $3000. Goldman Sachs bahkan memproyeksikan tahun 2050 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 4 terbesar di dunia.

Bulan November-Desember ini saya banyak membaca dan menganalisa mengenai Marketing Outlook 2012. Satu hal yang menjadi insight di situ adalah optimisme bahwa kita bisa mengatasi dampak krisis Eropa yang sedang terkena penyakit kronis utang. Kenapa begitu? Karena kemandirian ekonomi kita saat ini semakin solid karena begitu powerful-nya konsumsi domestik (domestic consumption) kita.

Porsi konsumsi domestik di dalam GDP kita saat ini sudah mencapai angka 60-an persen. Nilainya sudah mencapai Rp 3500 triliun, sebuah angka yang luar biasa besar. Dan lebih menarik lagi, dari jumlah segede itu, porsi dari kalangan kelas menengah (middle-class consumer, yes Consumer 3000) mulai cukup siknifikan. Tingginya permintaan domestik itulah yang berpotensi menggerakkan industri dan perekonomian kita.

Ketika industri kita menggeliat, maka penyerapan tenaga kerja dan peningkatan daya beli masyarakat akan terdongkrak pula. Dan ketika daya beli naik, maka permintaan domestik yang makin besar ini semakin menggairahkan industri kita. Begitu seterusnya, sehingga pertumbuhan ekonomi ini akan semakin terdongkrak naik.

Decoupling

Posted: Rabu, 14 Desember 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Decoupling atau keterlepasan antara need (kebutuhan) dan want (keinginan) adalah fenomena yang bakal kian marak di tengah Indonesia yang kian makmur dengan makin banyaknya konsumen kelas menengah (Consumer 3000).

Kenapa saya sebut 'keterlepasan'?
Karena jaman saya kecil dulu, orang menginginkan barang yang dibelinya karena ia butuh. Ia membeli beras di pasar karena ia butuh untuk dimakan biar kenyang, dan punya tenaga untuk bekerja di sawah. Sekarang, banyak orang menginginkan barang yang dibelinya bukan karena ia butuh. Jadi nggak nyambung antara keinginan dan kebutuhan.

Contoh paling hot adalah heboh ngantri Blackberry Bold di Pacific Place minggu lalu. Di luar “laskar Roxy” yang memang ngantri untuk cari untung, saya yakin para BB fans mengular untuk mendapatkan BB tergress bukan karena mereka butuh tapi karena ingin menjadi pemilik pertama BB Bold 9790 di dunia atau karena aji mumpung biar dapat diskon 50%.

Yang saya pikirkan dari insiden di Pacific Place itu adalah sebuah ironi. Kalau di kalangan orang miskin “survival” adalah untuk mendapatkan sesuap nasi dengan mengantri pembagian sembako; maka di kalangan BB fans “survival” itu adalah untuk menjadi pemilik BB pertama di dunia. Setali tiga uang, keduanya membawa korban pingsan. Luar biasa!

Pingsan BB

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Untuk kesekian kali gadget bikin heboh. Nggak hanya Crocs saja yang membikin para pemburu diskon kalap. Sudah menjadi kebiasaan di Jakarta sekarang, begitu ada cool gadget diluncurkan di mal, para gadget lover pun kalap. Kita masih ingat heboh launching Galaxi Tabs, iPhone, atau Nexian beberapa bulan lalu yang menimbulkan buzz effect luar biasa.

Itulah yang terjadi pada launching BB Bold 9790 di Pacific Place beberapa waktu yang lalu. Beberapa hari sebelumnya memang kita dibikin penasaran dengan iklan satu halaman di koran-koran mengenai kehadiran BB terbaru yang peluncuran perdananya (world launch) dilakukan di Jakarta. Namanya yang pertama, tentu saja para BB mania penasaran ngerasain menjadi pengguna pertama di dunia.
Kira-kira sama dengan sensasi yang dirasakan saat para Apple mania mengular di Apple Store, Fift Avenue New York untuk menjadi pemilik iPad pertama di dunia. Sensasi ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para BB mania, apalagi dengan embel-embel diskon 50%. Dengan background semacam ini, tak heran jika antrian para pemburu diskon gadget menjadi begitu luar biasa seperti kita saksikan dua hari lalu.

Saya terhenyak tidak percaya melihat foto headline di koran-koran esok paginya yang memperlihatkan lautan manusia tumplek-blek di Pacific Place untuk berburu produk yang sedang di puncak ketenaran ini. Makin terhenyak lagi, karena kekalapan itu telah membawa korban hingga 90 orang pingsan. Dalam hati kemudian saya bergumam, biasanya yang sampai bikin pingsan itu ngantri sembako atau ngantri daging kurban, eh ini ngantri diskon gadget.

Berikut ini adalah catatan saya mengenai peristiwa tersebut. Agar cool, saya beri nama fenomena itu, insiden “Pingsan BB”.

K-Pop: Good, Bad, Ugly

Posted: Selasa, 15 November 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

K-pop, alias Korean pop, alias Korean wave, alias Hallyu memang hebat. Demamnya melanda ke seberang, ke seluruh pelosok dunia: dari Amerika hingga Eropa; dari Rusia hingga Timur Tengah.
Istri saya fanatik 2PM. Avatar BBM-nya berganti-ganti foto Tae Cyeon salah satu dedengkot 2PM yang di tiap lagunya selalu kebagian ngerap. “Dia cakep, jago ngerap, dan humoris,” ujarnya tentang sang idola. Pengetahuannya A sampai Z tentang Tae Cyeon dan 2PM extraordinary. Dan tiap kali diajak ngomong 2PM matanya selalu berbinar-binar nyaris keluar dari kantungnya dan mulutnya nerocos sulit dihentikan, bicara supersemangat dan penuh passion. Itu sebabnya saya malas ngobrol dengan dia soal 2PM.

Hampir tiap saat ia meng-update informasi mengenai setiap personil 2PM melalui Twitter @Hottest, Facebook fanpage Hottest Indonesia, dan YouTube sehingga tak sedikitpun informasi mengenai boy band kebanggaannya itu terlewatkan. Yang belum tahu, Hottest adalah sebutan untuk para fans fanatik 2PM. Bahkan setiap Rabu lepas Magrib dia tekun belajar bahasa Korea melalui akun @Hottest yang secara khusus memberikan “kursus” bahasa Korea melalui Twitter.

Istri saya adalah potret fanatisme K-pop. Fanatisme yang sama dialami jutaan ABG di seluruh pelosok Tanah Air. “It’s the power of K-pop!!!

Bicara tentang K-pop saya punya tiga opsi: the good, the bad, dan the ugly. The good adalah kebaikan-kebaikan yang harus kita tiru dari K-pop. The bad adalah keburukan-keburukan yang harus kita hindari. Dan the ugly adalah kejelekan-kejelakan, yang kalau bisa jangan sampai terjadi di Tanah Air.

Buzzing Komodo!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Saya tak akan akan ambil pusing apakah yayasan New 7 Wonders bodong atau beneran. Saya tak akan terlalu peduli, apakah langkah Kementrian Pariwisata keluar dari ajang kontes Tujuh Keajaiban Dunia blunder atau justru menguntungkan. Saya juga tak akan mengurus apakah langkah pak Jusuf Kalla lebih benar atau justru kontraproduktif. Itu semua urusan mereka dengan pernak-pernik kepentingan di baliknya.

Yang jelas saya berbunga-bunga karena di balik buzz yang melingkupi voting pulau Komodo menjadi Tujuh Keajaiban Dunia, pulau ini telah menuai popularitas, ownership dari segenap anak bangsa, dan memicu rasa nasionalisme yang luar biasa. Itu membikin satu-satunya pulau yang menampung biawak super langka ini semakin moncer tak hanya di dalam negeri, tapi juga seantero jagad.

Jika Kementrian Pariwisata tidak mencabut keikutsertaan Indonesia di ajang ini; jika pak Jusuf Kalla tak “turun gunung” menggalang dukungan, atau jika tak ada kasus SMS premium, saya yakin voting pulau Komodo akan sepi-senyap tenggelam oleh gosip Ayu Ting Ting vs Rafie Ahmad.
Saya melihat buzz komodo hari-hari ini menggulir sempurna karena memiliki tiga kunci kesuksesan sebuah word of mouth marketing yaitu: story, controversy, dan genuinity.