Tampilkan postingan dengan label The Meaning of Marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Meaning of Marketing. Tampilkan semua postingan

Everyones Are (Must Be) Customers!

Posted: Rabu, 08 Januari 2014 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Suatu kali saya pernah bercerita tentang core elements of SME. Bukan small medium enterprise. Melainkan, sustainable marketing enterprise sebagai the real marketing company! Di situ everyones are marketers! Tidak peduli apa pun fungsinya. Semua seolah-olah sudah punya invisible contract dengan pelanggan.

Terus terang, saya terinspirasi perusahaan Jepang di masa jayanya. Semua perusahaan besar di Jepang waktu itu selalu memilih dengan hati-hati calon karyawan masing-masing. Mereka biasanya merekrut fresh graduate pada saat yang sama.

Pakailah TOWS, Bukan SWOT!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label: ,
0

Ketika menulis buku pertama dengan Mas Yuswohady pada 2007-2008, saya mendapat kesempatan memopulerkan Model Credit Union Marketing. Konsep 4C dan Sembilan Elemen Marketing sudah saatnya dimodifikasi supaya lebih praktis lagi.

Supaya lebih gampang dimengerti juga!
Kan tugas saya bukan 'mempersulit' sesuatu yang sebenarnya 'mudah'. Tapi, justru 'mempermudah yang susah'. Ada tiga hal yang saya lakukan untuk simplification itu.

'Benar-benar Beda' vs 'Berani Tampil Beda'

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Diferensiasi merupakan elemen yang sangat penting semua elemen yang ada dalam konsep marketing versi siapapun. Tanpa menggunakan diferensiasi, Anda bukan marketer. Marketer sesungguhnya selalu berpikir untuk mendiferensiasikan dirinya dari orang lain.

Selalu memikirkan apakah diferensiasinya masih ‘valid’ dengan customer. Selalu memikirkan apakah diferensiasinya sudah ‘diikuti’ pesaing? Selalu berpikir bagaimana ‘memperkuat’ diferensiasinya. Atau, bahkan mengubah diferensiasinya kalau diikuti pesaing.

Nah, kalau dikaitkan dengan pergeseran competitive setting dari 2C ke 4C dalam lima tahap, diferensiasi juga begitu. Pada situasi monopoli 2C, diferensiasi cukup yang good for company. Karena itulah, pada zaman Orde Baru dulu, perusahaan-perusahaan yang mendapat hak monopoli hanya mendiferensiasikan diri di bidang produksi atau operasional. Harus efisien dan memenuhi target kualitas yang diharapkan. Mereka tidak perlu memerhatikan pesaing atau pelanggan.

Keep It Simple Stupid!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Sejak dulu saya mengagumi Kehnichi Ohmae. Dia seorang doktor, tapi juga konsultan di McKinsey. Jadi, cara berpikirnya tidak mbulet dan complicated.

Seorang konsultan dilatih untuk berpikir practical karena klien minta sesuatu yang bisa dijalankan. Klien tidak butuh suatu penelitian yang ngawang dan tidak menghasilkan suatu rekomendasi yang konkret.

Apalagi kalau penelitian yang kemudian membutuhkan penelitian selanjutnya. Nanti waktunya habis bikin penelitian saja tanpa ada tindakan. Itu namanya paralysis by analysis. Jadi lumpuh karena terlalu banyak analisis! Hehehe…

Kehnichi Ohmae memengaruhi banyak cara berpikir saya. Please simplify the complex thing, do not complicate the simple thing! Di dalam buku Mind of a Strategist yang sangat memengaruhi konsep saya disebutkan TIGA C.

Ohmae menulis bahwa strategi sebuah perusahaan haruslah didasarkan pada tiga pilihan. Pertama, Company-based Strategy. Lihat apa strength and weakness Anda terlebih dulu. Lantas, bikinlah strategi berdasar pada kekuatan, jangan kelemahan. Jangan memaksakan diri ‘masuk’ ke suatu area yang Anda sebenarnya tidak punya kompetensi.

Kelihatan sederhana, kan? Tapi sangat benar adanya. Orang banyak ‘silau’ akan suksesnya orang lain di suatu bidang dan ikut-ikutan. Akhirnya, gagal! Ingat lho, peluang tidak pasti pas untuk semua orang.

Jangan ikut-ikutan! Contohnya gampang!

Branding Kopi, Resolusi Bisnis Saya di 2014!

Posted: Minggu, 05 Januari 2014 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Hari Jumat sore, di akhir tahun 2013 lalu saya mendapat berkah ilmu dari pak Priyantono Rudito dalam sebuah acara sesi sharing sebuah komunitas. Beliau adalah direktur SDM PT Telkom, meski master dan doktornya (dari Universitas RMIT Australia) adalah marketing dan kini ia mengajar di sekolah bisnis ITB pun untuk mata kuliah marketing.

Saya sudah lama jadi follower beliau. Nah, dari banyak ngobrol selama ini, belakangan saya tahu ia ternyata seorang pakar kopi juga. Tidak main-main, ia adalah pemegang sertifikasi barista (peracik kopi) internasional. Karena alasan itulah kemudian muncul ide saya mengajak beliau (suatu saat) untuk berbagi ilmu mengenai bagaimana mem-branding kopi lokal Indonesia.

2014, Salip Di Tikungan, Bro!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Selamat Natal 2013 dan Selamat Tahun Baru 2014!

Tahun 2014 yang sudah kita masuki beberapa hari ini adalah tahun yang penuh ranjau. Di bidang politik kita tahu Pemilu (lengkap dengan money politic-nya) bakal memicu instabilitas dan gerahnya suhu politik nasional. Dengan kondisi yang kurang menentu, pelaku bisnis akan cenderung wait and see untuk mengurangi risiko usaha, setidaknya hingga akhir tahun. Apalagi jika pelaku usaha percaya betul terhadap ramalan shio. 2014 ini adalah shio kuda. Jadi mesti dikategorikan binatang yang setia, dan kuat, namun sifat pengembara dan pengelananya menjadikan tahun 2014 ini menjadi tahun yang paling tidak menentu. Ups...

Di bidang ekonomi ranjaunya tak kalah gawat. Kita tahu rupiah terus terjun bebas, hingga akhir tahun ini sudah menembus ambang batas Rp 12.000. Biangnya struktural, karena impor kita yang jauh lebih perkasa ketimbang ekspor. Sudah 27 bulan kita mengalami defisit neraca transaksi berjalan (saat ini 3,78% dari PDB), sebuah rekor dalam sejarah perekonomian tanah air. Celakanya, perekonomian AS kian menggeliat (AS mulai meluncurkan kebijakan tappering off) sehingga dolar kian kokoh.

Untuk merespons melemahnya rupiah, BI rate pun terus didongkrak, setidaknya hingga ke level 8% tahun depan. Kalau sudah demikian maka semua sektor industri akan terpukul. Ekspansi kredit akan diredam dan pertumbuhan ekonomi tak seperkasa tahun-tahun sebelumnya (diperkirakan tak sampai 6%). Itu artinya, tahun depan adalah tahun pengencangan ikat pinggang. Tahun prihatin. Tahun tiarap bagi para pebisnis.

Bagaimana menghadapi tahun depan yang bakal diwarnai ketidakmenentuan (uncertainty) dan dihantui pelemahan ekonomi (economic downturn) ini? Ketika gambaran bisnis tahun depan demikian suram, pertanyaannya, apakah kita para marketer harus ikutan suram dan pesimis? No way!

Berikut ini adalah kiat-kiat untuk survive di tahun depan.

Social Proof Inspiration

Posted: Minggu, 01 Desember 2013 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Dulu, saat saya liburan bareng istri dan anak-anak ke luar kota, ada kiat jitu yang kami pakai untuk memilih tempat makan yang tidak kami ketahui apakah sajiannya enak atau tidak. Biasanya kami muter-muter, kami telusuri satu-persatu warung atau restauran yang ada di kota itu, lalu kami cari mana dari warung atau restoran itu yang dikerumuni pengunjung. Kiat jitu itu adalah, memilih warung atau restoran mana yang paling ramai. Makin ramai, makin kami pilih.

Dari pengalaman kami, memang kiat itu terbukti jitu. Dari kasus-kasus yang kami alami, memang terbukti sebagian besar memang sajiannya enak. Tapi, pertanyaannya, apakah warung yang dikunjungi banyak orang itu pasti enak? Tentu tidak!

8 Sosok Kelas Menengah Indonesia

Posted: Selasa, 03 Juli 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Bagaimana sosok kelas menengah Indonesia?
Apakah betul mereka hedonis?
Apakah betul mereka hanya peduli dengan urusan pribadi mereka?
Atau seperti banyak dilansir di surat kabar, apakah betul mereka acuh tak acuh dengan persoalan negaranya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melalui tulisan ini saya akan tampilkan hasil riset Center for Middle Class Studies (CMCS) - lembaga riset yang dirintis oleh Guru Marketing saya, Yuswohady. Hasil riset ini sempat kami diskusikan beberapa hari lalu melalui twitter. Ini merupakan studi kualitatif untuk memotret sosok mereka. Hasilnya adalah 8 sosok konsumen kelas menengah Indonesia seperti digambarkan dalam diagram segmentasi berikut (lihat gambar). Bagaimana karakteristik dari 8 sosok tersebut? Berikut ini uraiannya.






Woman 3000

Posted: Kamis, 14 Juni 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Wanita adalah konsumen yang sangat powerful. Survei di seluruh dunia menunjukkan, secara keseluruhan wanita menguasai 85% pembelian produk dan layanan mulai dari makanan, mobil, hingga layanan kesehatan. Wanita menguasai 93% pembelian makanan dan obat tanpa resep (OTC); 92% liburan keluarga; 91% pembelian rumah baru; 89% pembukaan rekening bank; 80% layanan kesehatan; dan 66% pembelian komputer.

Karena sangat penting, baik sebagai pengambil keputusan pembelian (decision maker) maupun yang mempengaruhi (influencer), bukan rahasia lagi jika konsumen wanita menjadi incaran para pemasar
Tapi di balik potensi pasar wanita yang demikian luar biasa, terdapat challenge yang luar biasa pula, apalagi untuk konsumen wanitas kelas menengah. Di tengah daya beli yang tinggi, konsumen wanita kelas menengah (untuk singkatnya sebut saja, Woman 3000) memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (knowledgeable) dan lebih terkoneksi secara sosial (socially-connected). Berikut adalah beberapa karakteristik dari Woman 3000 yang saya amati. 

Bola Mania

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Bola mania”, sebutan saya dan juga media untuk para penikmat dan penggila sepak bola (soccer consumer), adalah pasar yang sangat menggiurkan tak hanya bagi tim dan klub sepak bola, tapi juga bagi merek Anda. Merek apapun, mulai dari yang terkait dengan sepak bola (baju, sepatu, dan perlengkapan sepak bola); yang terkait secara tidak langsung (snack, kacang, minuman dalam kemasan, kamera, TV); hingga yang sama sekali tidak terkait (ponsel, mobil, laptop, bank, maskapai penerbangan, termasuk credit union).

Ya, karena sepak bola adalah magnet yang luar biasa powerful dalam menarik perhatian jutaan konsumen. Semua orang kepincut pada olah raga satu ini. Di Indonesia misalnya, hampir semua lapisan masyarakat suka bola. Ada yang hard core alias mereka yang fanatik mencintai bola sampai ke ubun-ubun. Ada yang cintanya angot-angotan, alias suka bola kalau pas ada World Cup atau Euro Cup seperti sekarang.


I Love You Full, Sintang!: The Real Marketing @BOP

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 6-25 Juni 2012, saya habiskan waktu di Bukit Kelam, Sintang, sebuah wilayah eksotis dengan ciri sebuah gunung batu hitam luar biasa besar (saya belum pernah melihat gunung batu sebesar itu sebelumnya), sekitar 20 kilometer dari kota Sintang, Kalimantan Barat. Menjangkau tempat ini dari Yogyakarta butuh perjuangan lumayan berat bagi saya pribadi. Dari Pontianak sebenarnya ada 2 pilihan untuk menjangkau Sintang dan Bukit Kelam, jalur darat dan jalur udara. Untuk jalur udara dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit, repotnya tidak setiap hari ada penerbangan rutin dari Pontianak menuju Sintang maupun sebaliknya.

Dengan kondisi seperti ini, akhirnya tanggal 6 Juni 2012 kemarin saya menggunakan jalur darat menuju Sintang dari Pontianak, dengan waktu tempuh hampir 9 jam. Perjalanan darat ini benar-benar menguras energi dan stamina saya, bahkan saya dipaksa untuk ‘kalah meski belum menyerah’ dengan medan seperti ini. Fokus saya ketika sampai di Bukit Kelam sekitar pukul 2 dini hari tanggal 7 Juni 2012 adalah tidur senyenyak mungkin, karena pada hari yang sama jam 8 pagi acara sudah siap menunggu untuk dimulai.


Overconnected Consumer

Posted: Senin, 28 Mei 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ada kebiasaan “jelek” yang selalu saya temukan saat meeting dengan klien, mitra kerja, atau siapapun. Di ruangan, saat meeting bergulir Blackberry sudah stand-by di depan masing-masing peserta meeting (ups, tentu saja BB dalam keadaan hidup). Tangan kanan memegang balpoint agar mereka terlihat serius, tangan kiri gelisah luar biasa layaknya gadis yang sedang kasmaran.

Begitu ada salah satu peserta meeting yang angkat bicara, maka si tangan kiri pun mulai sigap bergerilya menerkam BB. Secepat kilat jari-jemari lincah menari di atas tuts-tuts BB dan saat itu pula mata mulai juling. Satu melirik ke layar BB, satunya lagi penteng ke peserta lain yang sedang bicara. Otak pun terbelah menjadi dua, pertama ke email-Twitter-Facebook; kedua ke apa yang diomongkan peserta lain. Karena itu seringkali, terjadi saat suasana meeting lagi serius-seriusnya, ada saja satu atau beberapa peserta yang senyum-senyum kecil sendiri.

Tentu saja ber-BB ria selama meeting adalah kebiasaan buruk dan tidak sopan karena tidak menghargai peserta meeting lain. Tapi tak tahu kenapa, makin lama saya amati kebiasaan ini semakin merajalela nyaris menjadi budaya meeting baru yang kita lestarikan bersama. Saya tahu persis para peserta meeting itu umumnya orang-orang super sibuk sehingga email harus cepat dijawab, SMS harus cepat direspons, mention di Twitter harus cepat di-retweet, beragam berita harus diikuti.

Kebangkitan Nasional II

Posted: Kamis, 24 Mei 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Kebangkitan Nasional I adalah bangkitnya rasa dan semangat persatuan, nasionalisme dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kebangkitan Nasional II adalah bangkitnya rasa dan semangat persatuan, nasionalisme, dan kesadaran untuk menjadi negara besar di dunia. 
The Great Indonesia!
 


Hampir semua lembaga penelitian bergengsi global telah meramalkan Indonesia akan menjadi bangsa besar di dunia karena kekuatan ekonominya. Euromonitor (2010) meramalkan tahun 2020 Indonesia menempati urutan ke-12 kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Di tahun 2050 Indonesia kian perkasa, karena menurut Goldman Sach (2008) Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-7 di dunia mengalahkan Jerman, Inggris maupun Jepang. “Welcome the Great Indonesia!”

Melalui tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa pilar yang menopang kemajuan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi besar di dunia tersebut adalah kelompok masyarakat kelas menengah. Kalau kita mengambil definisi kelas menengah dari Asian Development Bank (ADB), adalah masyarakat dengan pengeluaran perhari sebesar USD2-20, maka saat ini mereka telah mencapai jumlah sekitar 135 juta atau hampir 60% masyarakat kita. Mereka tumbuh pesat sekitar 8-9 juta orang pertahunnya. Karena itu Kebangkitan Nasional II tak bisa dilepaskan dari kebangkitan kelas menengah kita.