Pakailah TOWS, Bukan SWOT!
Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of Management, The Meaning of MarketingSupaya lebih gampang dimengerti juga!
Kan tugas saya bukan 'mempersulit' sesuatu yang sebenarnya 'mudah'. Tapi, justru 'mempermudah yang susah'. Ada tiga hal yang saya lakukan untuk simplification itu.
'Benar-benar Beda' vs 'Berani Tampil Beda'
Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of MarketingSelalu memikirkan apakah diferensiasinya masih ‘valid’ dengan customer. Selalu memikirkan apakah diferensiasinya sudah ‘diikuti’ pesaing? Selalu berpikir bagaimana ‘memperkuat’ diferensiasinya. Atau, bahkan mengubah diferensiasinya kalau diikuti pesaing.
Nah, kalau dikaitkan dengan pergeseran competitive setting dari 2C ke 4C dalam lima tahap, diferensiasi juga begitu. Pada situasi monopoli 2C, diferensiasi cukup yang good for company. Karena itulah, pada zaman Orde Baru dulu, perusahaan-perusahaan yang mendapat hak monopoli hanya mendiferensiasikan diri di bidang produksi atau operasional. Harus efisien dan memenuhi target kualitas yang diharapkan. Mereka tidak perlu memerhatikan pesaing atau pelanggan.
Seorang konsultan dilatih untuk berpikir practical karena klien minta sesuatu yang bisa dijalankan. Klien tidak butuh suatu penelitian yang ngawang dan tidak menghasilkan suatu rekomendasi yang konkret.
Apalagi kalau penelitian yang kemudian membutuhkan penelitian selanjutnya. Nanti waktunya habis bikin penelitian saja tanpa ada tindakan. Itu namanya paralysis by analysis. Jadi lumpuh karena terlalu banyak analisis! Hehehe…
Kehnichi Ohmae memengaruhi banyak cara berpikir saya. Please simplify the complex thing, do not complicate the simple thing! Di dalam buku Mind of a Strategist yang sangat memengaruhi konsep saya disebutkan TIGA C.
Ohmae menulis bahwa strategi sebuah perusahaan haruslah didasarkan pada tiga pilihan. Pertama, Company-based Strategy. Lihat apa strength and weakness Anda terlebih dulu. Lantas, bikinlah strategi berdasar pada kekuatan, jangan kelemahan. Jangan memaksakan diri ‘masuk’ ke suatu area yang Anda sebenarnya tidak punya kompetensi.
Kelihatan sederhana, kan? Tapi sangat benar adanya. Orang banyak ‘silau’ akan suksesnya orang lain di suatu bidang dan ikut-ikutan. Akhirnya, gagal! Ingat lho, peluang tidak pasti pas untuk semua orang.
Jangan ikut-ikutan! Contohnya gampang!
Branding Kopi, Resolusi Bisnis Saya di 2014!
Posted: Minggu, 05 Januari 2014 by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of MarketingSocial Proof Inspiration
Posted: Minggu, 01 Desember 2013 by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of Marketing8 Sosok Kelas Menengah Indonesia
Posted: Selasa, 03 Juli 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of MarketingApakah betul mereka hedonis?
Apakah betul mereka hanya peduli dengan urusan pribadi mereka?
Atau seperti banyak dilansir di surat kabar, apakah betul mereka acuh tak acuh dengan persoalan negaranya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melalui tulisan ini saya akan tampilkan hasil riset Center for Middle Class Studies (CMCS) - lembaga riset yang dirintis oleh Guru Marketing saya, Yuswohady. Hasil riset ini sempat kami diskusikan beberapa hari lalu melalui twitter. Ini merupakan studi kualitatif untuk memotret sosok mereka. Hasilnya adalah 8 sosok konsumen kelas menengah Indonesia seperti digambarkan dalam diagram segmentasi berikut (lihat gambar). Bagaimana karakteristik dari 8 sosok tersebut? Berikut ini uraiannya.
Karena sangat penting, baik sebagai pengambil keputusan pembelian (decision maker) maupun yang mempengaruhi (influencer), bukan rahasia lagi jika konsumen wanita menjadi incaran para pemasar
Tapi di balik potensi pasar wanita yang demikian luar biasa, terdapat challenge yang luar biasa pula, apalagi untuk konsumen wanitas kelas menengah. Di tengah daya beli yang tinggi, konsumen wanita kelas menengah (untuk singkatnya sebut saja, Woman 3000) memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (knowledgeable) dan lebih terkoneksi secara sosial (socially-connected). Berikut adalah beberapa karakteristik dari Woman 3000 yang saya amati.
Ya, karena sepak bola adalah magnet yang luar biasa powerful dalam menarik perhatian jutaan konsumen. Semua orang kepincut pada olah raga satu ini. Di Indonesia misalnya, hampir semua lapisan masyarakat suka bola. Ada yang hard core alias mereka yang fanatik mencintai bola sampai ke ubun-ubun. Ada yang cintanya angot-angotan, alias suka bola kalau pas ada World Cup atau Euro Cup seperti sekarang.
I Love You Full, Sintang!: The Real Marketing @BOP
Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of MarketingOverconnected Consumer
Posted: Senin, 28 Mei 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of MarketingAda kebiasaan “jelek” yang selalu saya temukan saat meeting dengan
klien, mitra kerja, atau siapapun. Di ruangan, saat meeting bergulir
Blackberry sudah stand-by di depan masing-masing peserta meeting (ups,
tentu saja BB dalam keadaan hidup). Tangan kanan memegang balpoint agar
mereka terlihat serius, tangan kiri gelisah luar biasa layaknya gadis
yang sedang kasmaran.
Begitu ada salah satu peserta meeting yang angkat bicara, maka si
tangan kiri pun mulai sigap bergerilya menerkam BB. Secepat kilat
jari-jemari lincah menari di atas tuts-tuts BB dan saat itu pula mata
mulai juling. Satu melirik ke layar BB, satunya lagi penteng ke peserta
lain yang sedang bicara. Otak pun terbelah menjadi dua, pertama ke
email-Twitter-Facebook; kedua ke apa yang diomongkan peserta lain.
Karena itu seringkali, terjadi saat suasana meeting lagi
serius-seriusnya, ada saja satu atau beberapa peserta yang senyum-senyum
kecil sendiri.
Tentu saja ber-BB ria selama meeting adalah kebiasaan buruk dan tidak
sopan karena tidak menghargai peserta meeting lain. Tapi tak tahu
kenapa, makin lama saya amati kebiasaan ini semakin merajalela nyaris
menjadi budaya meeting baru yang kita lestarikan bersama. Saya tahu
persis para peserta meeting itu umumnya orang-orang super sibuk sehingga
email harus cepat dijawab, SMS harus cepat direspons, mention di
Twitter harus cepat di-retweet, beragam berita harus diikuti.
Kebangkitan Nasional II
Posted: Kamis, 24 Mei 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label: The Meaning of MarketingThe Great Indonesia!
Hampir semua lembaga penelitian bergengsi global telah meramalkan Indonesia akan menjadi bangsa besar di dunia karena kekuatan ekonominya. Euromonitor (2010) meramalkan tahun 2020 Indonesia menempati urutan ke-12 kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Di tahun 2050 Indonesia kian perkasa, karena menurut Goldman Sach (2008) Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-7 di dunia mengalahkan Jerman, Inggris maupun Jepang. “Welcome the Great Indonesia!”
Melalui tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa pilar yang menopang kemajuan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi besar di dunia tersebut adalah kelompok masyarakat kelas menengah. Kalau kita mengambil definisi kelas menengah dari Asian Development Bank (ADB), adalah masyarakat dengan pengeluaran perhari sebesar USD2-20, maka saat ini mereka telah mencapai jumlah sekitar 135 juta atau hampir 60% masyarakat kita. Mereka tumbuh pesat sekitar 8-9 juta orang pertahunnya. Karena itu Kebangkitan Nasional II tak bisa dilepaskan dari kebangkitan kelas menengah kita.
