Sabtu, 9 November 2013, beberapa ruas jalan
utama kota Ruteng, Manggarai dipenuhi oleh para wisudawan. Mereka yang baru ‘ditahbiskan’
dari kawah candradimuka pendidikan, yang mungkin tidak sekadar menguras energi dan
biaya, namun juga emosi dari sebuah kampus lokal bernama STKIP St. Paulus,
larut dalam keceriaan dan suka cita, seolah-olah baru saja terlepas dari suatu
beban berat. Yups… rata-rata dari mereka adalah wisudawan sekaligus calon-calon
ujung tombak pendidikan bangsa ini. Semoga…
Saya menjadi tertarik dengan istilah
wisudawan, bukan hal lainnya. Seringkali saat bulan ramadhan tiba, para pemuka
agama menganalogikan orang yang selesai berpuasa sebagai wisudawan. Menurutnya, berpuasa itu ibarat mengikuti ujian
dari Tuhan. Ujian ini diselenggarakan secara amat ketat dan berlangsung dengan
sangat fair karena Tuhan sendirilah yang menjadi jurinya. Setelah lulus,
tentu saja Anda masih harus membuktikan kualitas ‘kesarjanaan’ Anda selama
setahun ke depan. Hal ini juga yang melanda sebagian besar mahasiswa, dimana
pun dan dari kampus apapun.
Tepatkah analogi
tersebut? Sepintas lalu, kita mungkin tidak akan menemukan masalah apapun.
Namun kalau kita renungkan kembali lebih dalam, analogi tersebut jelas
bermasalah, bahkan berpotensi mereduksi makna dan hakikat puasa sebenarnya.
Apakah saya
sedang mengada-ada atau membesar-besarkan masalah? Tentu saja, Anda dapat
menilainya sendiri. Yang jelas bagi saya, penggunaan analogi itu sangat
penting. Analogi adalah cara kreatif untuk menggali sesuatu yang ada di bawah kesadaran
kita. Analogi yang kita gunakan menggambarkan paradigma terdalam diri kita.