Tampilkan postingan dengan label The Meaning of Credit Union. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Meaning of Credit Union. Tampilkan semua postingan

Corporate Culture = Diferensiasi Di Tingkat Organisasi

Posted: Rabu, 08 Januari 2014 by R. Anang Tinosaputra in Label: ,
0

Apa yang membedakan sebuah credit union dari credit union dan perusahaan lain? Tentu saja jawabannya misi dan visinya. Kalau mau ekstrem, apa bedanya antara organisasi mafia dan red cross? Wow jauh sekali, kan?

Misi yang satu nggak peduli ‘kemanusiaan’, sedangkan yang lain sangat peduli. Visinya juga pasti berbeda. Yang satu, mungkin ingin ‘menguasai’ kota tertentu, sedangkan yang satunya lagi bagaimana ‘memanusiakan’ kota tertentu.

Tapi, selain misi dan visi, ada satu lagi yang biasanya gampang ‘dikenali’ orang luar. Misi dan visi suatu organisasi atau perusahaan biasanya hanya diketahui ‘orang dalam’, itu pun belum tentu. Tapi, kalau values atau nilai-nilai suatu organisasi sering ‘terbedakan’ dari corporate culture-nya.

Credit Union, The New Spiritual Company

Posted: Senin, 25 November 2013 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Beberapa hari lalu, saya mendapat kiriman buku dari guru saya, Mas Yuswohady. Buku terbaru yang beliau editori. Buku berjudul 'Great Spirit, Grand Strategy' (Gramedia Pustaka Utama, 2013)ini ditulis oleh Arief Yahya, Direktur Utama Telkom. Buku ini berisi platform strategi yang menjadi landasan Pak AY (begitu ia biasa dipanggil di internal Telkom) dalam memanajemeni Telkom.


Dalam buku tersebut, Pak AY menuangkan betul betul butir-butir pemikiran manajemennya. Salah satu butir pemikiran yang saya sukai adalah mengenai peran spiritualism dalam membangun sebuah organisasi. Saya menjadi sangat terinspirasi oleh nilai-nilai dalam buku ini untuk bisa diterapkan di dunia credit union Indonesia.

Bagaimanakah Diferensiasi Itu?

Posted: Minggu, 17 November 2013 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Beberapa jam sebelum saya posting tulisan ini, saya mendapatkan BBM dari seorang sahabat credit union di Pontianak, Kalbar.

Isinya kurang lebih seperti ini, ‘Credit union kami dapat bertahan karena kualitas produk dijaga terus-menerus. Penjualan diupayakan tidak berfluktuasi, namun tampaknya image merek tak mampu setara dengan merek lembaga keuangan lain, seperti bank. Sekalipun bisa kami katakan kualitas merek mereka di bawah kualitas kami? Apa yang salah, Mas?’

Meskipun saya sering mendapat pertanyaan serupa dari para sales, marketer, maupun sahabat credit union, namun saya tetap dengan senang hati meresponnya, dengan jawaban yang hampir sama. Hehehe...

Ini serius, saya selalu memberikan inspirasi tentang diferensiasi dimana pun dan dalam konteks apapun, dengan garis besar pembicaraan yang hampir sama. Penjelasannya seperti ini...

Credit Union Is The New Powerhouse

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Selamat Pagi, Credit Union!
Lama saya tidak menulis tentang credit union, khususnya di Indonesia. Beberapa hari lalu, saya mulai terusik dengan keberadaan credit union di Indonesia, yang seolah menjadi terkesan ‘ecek-ecek’, hanya karena saya melihat sebuah acara talkshow di sebuah televisi lokal Kalimantan.

Dalam talkshow yang menghadirkan seorang tokoh credit union di Kalimantan Barat (tokoh tersebut selama ini mengklaim diri sebagai bapaknya gerakan credit union di Kalimantan Barat) sebagai narasumber, terlihat jelas bagaimana bias dan tidak jelasnya credit union di Indonesia. Tayangan yang bagi saya seharusnya menjadi kesempatan emas bagi credit union untuk show the power, menjadi hambar dan ‘biasa-biasa saja’ alias sia-sia, hanya karena ketidakmampuan sang narasumber mempresentasikan positioning dan differentiation credit union. Ironi besar, karena sang narasumber berasal dari ‘kiblat’-nya credit union di Indonesia.

Saya tidak sepakat bahwa itu 'hanyalah' soal marketing communication. Karena bagi saya, komunikasi menjadi sarana ampuh (golden ways) bagi sebuah produk, apalagi brand untuk tidak sekadar di-aware oleh pelanggannya, namun sekaligus juga bisa diasosiasi dengan benar dan tepat di benak dan hati pelanggannya.

Mall Is the Killer App, How About CU?

Posted: Rabu, 27 Juli 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
2

Apa kabar Credit Union?

This article on how CU could be a 'killer' or even 'killed'!

Istilah killer app sering dipakai di dunia inovasi teknologi untuk menggambarkan produk/teknologi lama yang tergantikan (istilah kejamnya: 'dibunuh' atau 'dihabisi') oleh produk/teknologi yang lebih baru. Mesin ketik 'dibunuh' oleh komputer pribadi (dengan program Wordstar-nya waktu itu). Koran, majalah, dan buku cetak 'dihabisi' pelan-pelan oleh portal berita, blog, dan ebook. iPod dengan iTunes-nya menjadi killer app bagi perusahaan rekaman dan toko-toko CD seperti Disc Tara atau Aquarius. Bahkan kantor pos 'dibunuh' oleh yang namanya SMS!

Tapi bagaimana ceritanya mal kok menjadi killer app? Ya, ini setidaknya berdasarkan pengamatan saya keseharian. Kian lama mal semakin mengambil begitu banyak aktivitas keseharian kita. Begitu memikatnya mal, sehingga kita kian tak berdaya 'terhisap' ke dalamnya. It’s the center of our life.

Terus terang, saya adalah pecinta mal. Ya, karena dorongan istri (yang dipengaruhi anak-anak, sebagai 'the great infleuncer'), hampir tiap minggu saya ke mal, bahkan bisa beberapa kali seminggu. Berbeda dengan kebanyakan orang yang ke mal kesurupan berbelanja, saya ke mal untuk memata-matai orang kesurupan berbelanja.

Nah, sekian lama mengamati denyut kehidupan mal, saya melihat ekspansi (tepatnya 'hegemoni' atau 'penjajahan') mal ini semakin merajalela dalam menyusupi dan merasuki seluruh aspek kehidupan kita masyarakat urban. Ide awalnya, mal tak jauh beda dengan pasar Inpres, yaitu tempat untuk kita berbelanja kebutuhan. Tapi dalam perjalanannya, mal kemudian menjajah seluruh sisi kehidupan kita. Singkatnya, apapun aktivitas kita saat ini dilakukan di tempat 'keramat' bernama mal. Coba kita lihat.

The Real Transformation in Credit Union

Posted: Selasa, 21 Juni 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Selamat Pagi dan Salam Sukses!

Tulisan ini pernah saya 'share' ke sahabat CU sekalian melalui akun facebook 'Credit Union Community' medio Januari 2011 lalu. Tulisan ini juga pernah dimuat dalam majalah Kalimantan Review beberapa bulan lalu. Dan entah kebetulan atau tidak, bulan ini saya mendapat kabar terjadinya 'perceraian' antara 3 CU yang cukup besar di Kalimantan dengan BK3CU Kalimantan, tempat mereka selama ini berkomunitas. Inilah transformasi yang saya bayangkan dan juga diskusikan dengan Saudara saya di Inkopdit, Mas Ari Setiawan sekitar 3-4 tahun lalu.

Saya mem-posting kembali tulisan ini melalui blog saya, dan kemudian men-'share'-nya kembali kepada sahabat sekalian, bukan untuk membenarkan atau menyalahkan pihak beserta keputusan-keputusan yang muncul dalam problem ini, tapi lebih sebagai refleksi bersama bahwa CU suka tidak suka akan terus bertransformasi. Positif atau negatif, itu kembali ke perspektif kita dalam melihat.

Semoga menginspirasi....

Principle 8. Love Is Friendship

Posted: Senin, 20 Juni 2011 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ini adalah hari kesembilan saya menulis seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui CU. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di CU akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada pelanggan di CU. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang kedelapan atau yang terakhir yaitu: ‘Love Is Friendship’.

Di akhir seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing selama 9 hari ini saya ingin mengatakan bahwa, ketika Anda sudah menjalankan 8 prinsip yang ada di dalam konsep ini dalam kurun waktu yang lama, maka tanpa disadari Anda sudah menjalin ‘relationship’ yang intim dengan para pelanggan Anda. Ketika kita terus bermesra-mesraan dengan setiap pelanggan dan anggota kita di jagad CU, maka dari situ akan terjalin dan terpupuk pertemanan (friendship) dengan mereka.

Tujuan akhir dari ‘CU marketing’ adalah terciptanya pertemanan yang intim dengan pelanggan dan anggota Anda di jagad CU. Ingat, ‘the ultimate goal of CU marketing is to build friendship with your customer (and member)’. Ketika mereka menjadi teman, maka mereka tak hanya membeli dan loyal kepada produk Anda; lebih jauh lagi mereka akan berbicara positif dan merekomendasikan produk Anda kepada pelanggan lain.

Principle 7. Love Is Trust

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ini adalah hari kedelapan saya menulis seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui CU. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di CU akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada pelanggan di CU. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang ketujuh yaitu: ‘Love Is Trust’.

Ketika Anda mempraktekan prinsip-prinsip yang ada di dalam Credit Union Marketing Is Love Marketing: Anda selalu memberi (giving) kepada pelanggan dan teman; Anda selalu mendengarkan (listening) dan selalu mengajak mereka bercurhat-curhatan (conversation); setiap saat Anda berbagi (sharing) dengan mereka (berbagi ilmu, berbagi kebaikan, berbagi kebahagiaan); Anda peduli (caring) dengan keluh-kesah pelanggan dan anggota di CU; maka secara tak disadari Anda membangun ‘TRUST’ dengan mereka. Singkatnya, jika Anda terus menebar cinta kepada ‘stakeholders’ Anda di CU, maka sesungguhnya Anda sedang membangun sebuah kerajaan indah bernama: ‘TRUST’.

Principle 6. Love Is Empathy

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ini adalah hari ketujuh saya menulis seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui CU. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di CU akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada pelanggan di CU. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang keenam yaitu: ‘Love Is Empathy’.

Definisi paling gampang dari empati (dari kata dalam Bahasa Jerman: ‘Einfühlungsvermögen’) adalah kemampuan kita dalam berbagi dan merasakan perasaan (sedih, gembira, atau bimbang) yang dialami oleh orang lain. Ketika Anda mencintai orang lain, maka pasti Anda akan empati kepadanya. Ketika orang yang Anda cintai merasakan kesedihan Anda akan ikutan sedih; ketika ia riang-gembira maka Anda serta-merta ikutan senang-gembira; begitupun kalau orang yang Anda cintai itu galau, maka Andapun akan kesetrum ikut-ikutan gundah gulana.

Principle 5. Love Is Caring

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ini adalah hari keenam saya menulis seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui CU. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di CU akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada pelanggan di CU. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang kelima yaitu: ‘Love Is Caring’.

Hakikat cinta adalah peduli, ‘caring’. Ketika Anda tidak ‘care’ kepada istri-suami, pacar, anak, kerabat, atau siapapun yang Anda cintai, maka sesungguhnya Anda tidak mencintai mereka. Begitupun jika Anda tidak ‘care’ dengan pelanggan dan anggota Anda di CU, maka sesungguhnya Anda tidak mencintai mereka.

Banyak kalangan yang mengatakan marketing di CU dikatakan sukses jika kita punya puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan anggota. Saya bilang salah besar. Tak ada gunanya kita punya ratusan ribu anggota jika kita tak tahu siapa mereka, kita tak pernah curhat-curhatan dengan mereka, dan kita tak pernah mendengarkan mereka. Tak ada gunanya kita punya jutaan anggota jika tak pernah sedikitpun kita ‘care’ kepada mereka, dan tak pernah kita melayani mereka.

Principle 4. Love Is Sharing

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ini adalah hari kelima saya menulis seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui CU. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di CU akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada pelanggan di CU. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang keempat yaitu: ‘Love Is Sharing’.

Ketika kita punya sesuatu, dan sesuatu itu kita kangkangi, kita monopoli, dan tak sudi berbagi, maka itu sesungguhnya adalah ‘puncak dari keegoisan’ kita. Cinta tak pernah egois. Cinta tak pernah mementingkan diri sendiri. Cinta yang tulus selalu fokus pada siapapun yang kita cintai: apakah pacar, istri/suami, anak-anak kita, juga tentu Tuhan. Cinta adalah ‘memberi’. Cinta adalah ‘berbagi’. Mother Theresa menjadi ikon cinta-kasih, karena ia mendedikasikan dirinya untuk orang lain. Mother Theresa menebar cinta dengan ‘membagikan’ hidupnya untuk kaum papa.

Principle 3. Love Is Listening

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ini adalah hari keempat saya menulis seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran melalui CU. Melalui konsep ini saya ingin mangatakan bahwa strategi pemasaran Anda di CU akan sukses kalau Anda terus menebar cinta kepada pelanggan Anda di CU. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang ketiga, yaitu: ‘Love Is Listening’.

Perbedaan utama media horisontal seperti Twitter dengan media vertikal seperti TV, radio, atau majalah adalah bahwa media baru ini dapat mendengar (listening). Televisi dan radio adalah ‘kotak bebal’ yang tidak bisa mendengar. Televisi, radio, koran, bahkan billboard di pinggir-pinggir jalan adalah media yang piawai dalam ngomong, tapi tak memiliki kemampuan sedikitpun untuk mendengar.

Sama halnya dengan kita di CU, apa jadinya Anda jika bisanya cuma ngomong doang tanpa bisa dan tanpa pernah mau mendengarkan? Anda akan menjadi ‘vampire’ yang tak punya emosi, tak pernah bisa mengerti, dan tak mampu berempati. Kalau sudah begitu maka kita menjadi mahluk yang tak punya ‘hati’. Kita akan kehilangan harta karun paling berharga: sisi kemanusiaan kita.

Maukah brand Anda dicap dan dipersepsi oleh konsumen sebagai ‘vampire’ yang tak punya empati dan tak pernah peduli? Maukah brand Anda dicap dan dipersepsi oleh konsumen sebagai ‘tembok yang bebal dan dungu’? Kalau tidak mau, berlatihlah dan berusaha keraslah untuk terus mendengar pelanggan Anda. ‘LISTENING IS YOUR JOB #1’. Masih ingat iklan Prudential, kan? ‘Always listening, Always understanding!’ Tidak mungkin Anda bisa mengerti persoalan pelanggan, tanpa mendengarkan omongan pelanggan.

Principle 2. Love Is Conversations

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ini adalah hari ketiga saya menulis seri tulisan Credit Union Marketing Is Love Marketing, sebuah konsep mengenai pemasaran di CU. Seperti telah saya uraikan sebelumnya, konsep ini mengandung 8 prinsip cinta yaitu: memberi (giving), ngobrol (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), pertemanan (friendship). Hari ini giliran saya mengulas prinsip yang kedua yaitu: ‘Love Is Conversation’.

CU bukanlah medium untuk mem-broadcast pesan seperti halnya TV atau Radio. CU adalah medium untuk ngobrol (conversation). Namanya ngobrol, maka arah komunikasinya ‘dua arah’. Itu kalau dua orang, kalau ngobrolnya dengan banyak orang di dalam komunitas maka komunikasinya nggak hanya dua arah, tapi ‘ke segala arah’. Inilah perbedaan mendasar antara ‘broadcasting’ dengan ‘conversation’.

Love Without Conversation Is Impossible
Saya mengatakan ‘Love Is Conversation’ karena tak mungkin cinta terbentuk tanpa adanya ‘conversation’ yang intens, dua arah, dan diliputi saling pengertian. Bagaimana mungkin kita tidak pernah ngobrol bisa saling cinta. ‘Love without conversation is impossible’, ujar Mortimer Adler, filosof kenamaan Amerika.

Itulah sebabnya Sariwangi dalam kampanye iklannya konsisten menekankan pentingnya ‘ngomong’ (dengan teh ngepul di meja tentu saja… hehehe jualan nggak boleh ketinggalan) antara para suami dan istri, agar keharmonisan cinta terus bersemi di dalam keluarga. Tema kampanye Sariwangi bukanlah mengada-ada. Kenapa? Karena ‘krisis ngobrol’ kini menjadi penyakit serius di dalam keluarga-keluarga yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Denpasar, Surabaya, dan sebagainya.

Suami kerja keras tak sempat ngobrol sama istri. Istri kerja keras tak sempat ngobrol sama anak-anak. Kasihan para suami, istri, anak-anak di kota-kota besar karena mereka semakin dihinggapi ‘defisit ngobrol’ yang kemudian berujung pada ‘defisit cinta’. Suami istri punya PIL-WIL dan anak-anak pakai narkoba adalah dampak dari penyakit ‘defisit ngobrol’ dan ‘defisit cinta’ ini.

Principle 1. Love Is Giving

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Seperti saya uraikan minggu lalu konsep Credit Union Marketing Is Love Marketing ini mengandung 8 prinsip cinta, yaitu: memberi (giving), curhat (conversation), mendengar (listening), berbagi (sharing), peduli (caring), empati (empathy), kepercayaan (trust), dan pertemanan (friendship).

Intinya, saya ingin mengatakan bahwa jika Anda menjalankan 8 prinsip cinta tersebut kepada pelanggan (dan stakeholders) Anda di CU, maka dengan sendirinya Anda akan membangun ‘emotional connection’ dengan mereka. Dan ketika ‘emotional connection’ itu dipupuk — sehari-dua hari, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, atau bahkan puluhan tahun — maka mereka tak hanya membeli produk Anda, tapi juga loyal, dan bahkan menjadi ‘advocator’ atau ‘evangelist’ produk Anda.

Hari ini saya akan mulai membahas prinsip yang pertama: ‘Love Is Giving’.

Credit Union Marketing Is Love Marketing

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
2

Sudah sekitar sepuluh tahun terakhir ini saya bergelut dengan credit union, baik langsung maupun tidak langsung. Yup… ‘leaving credit union with deep passion’. Kapanpun, dimanapun saya berbicara credit union. Pas lagi baca, pas lagi nulis, pas lagi nonton Glee, pas lagi meeting (huzzz.. kebiasaan buruk baru saya, karena tak menghargai rekan meeting), pas nglembur kerjaan sampai Subuh, bahkan sampai waktu nyetir curi-curi pikiran akan CU. Bahkan seringkali saya mimpi pun lagi nulis atau lagi bicara tentang CU. Hampir sama ¬kegilaan saya dengan ‘Ngetwit’. Sampai istri saya nanya, ‘Nggak takut ‘CU addict’’? Emang gua pikirin!!!

Menikmati, menyelami, menghayati CU demi CU saya selama beberapa tahun terakhir, akhirnya saya menemukan ‘roh’ dan ‘hakikat’ kenapa saya begitu ‘passionate’ untuk ‘bicara’ tentang CU. Saya mulai menemukan ‘reason for being’ kenapa saya begitu gila CU. Saya mulai menemukan ‘fundamental purpose’ kenapa saya gila CU. Saya menemukan ‘ultimate answer’ kenapa saya gila CU. Apa itu? Satu kata: CINTA.

Selama beberapa tahun terakhir juga saya serius mempelajari dan menekuni strategi pengembangan dan marketing untuk bisa diterapkan dan dimanfaatkan di dunia CU, atau sebaliknya. Saya bereksplorasi dan bereksperimen bagaimana strategi marketing CU bisa membantu manajemen membangun ‘relationship’ dan keintiman dengan pelanggan. Saya bereksperimen bagaimana strategi marketing CU bisa membantu ‘brand’ curhat dan dicurhati oleh konsumennya ‘around the clock’ 24/7 (24 jam sehari, tujuh hari seminggu). Apa jawaban paripurna yang saya peroleh? Sama. Satu kata: CINTA.

Karena itu saya sampai pada kesimpulan final bahwa: ‘Credit Union Marketing Is Love Marketing’.

Wealth Management In Credit Union

Posted: Rabu, 10 Juni 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Dengan semakin banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh credit union yang mengedepankan brand management, maka eksposur ataupun awareness publik - anggota maupun calon anggota - makin bertambah, yang diharapkan nantinya akan semakin banyak 'orang baru' yang merasakan the credit union unique experiences and way of life ...

Kita, sebagai 'marketer' credit union, kini makin (dituntut) smart. Ini menandakan, jika kita mau menyesuaikan diri dengan perkembangan dan kebutuhan pasar yang kita garap selama ini, yakni anggota dan calon anggota. Hal ini sekaligus akan menjadi solusi terhadap kesiapan, keterampilan, dan kecerdasan kita menghadapi perkembangan dunia ekonomi.

Kebutuhan pasar?
Ya, pasar kita tidak sekadar ingin menyimpan atau meminjam uang. Lebih daripada itu, mereka mendambakan layanan credit union yang mampu mengakomodasi kepentingan mereka dan juga kita sendiri dalam berinvestasi, terutama investasi jangka panjang. Jika dunia perbankan telah mulai mengasah taringnya dengan mengedepankan produk baru tapi lama, yaitu wealth management, mengapa credit union tidak mencoba melakukan hal yang sama?

Bagaimana caranya?
Apa mungkin relevan bagi credit union?
Nah, seperti ini gambarannya ...

5 Karakter Credit Union (Perusahaan) Unggul

Posted: Jumat, 01 Mei 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan comment dalam blog saya dari seorang sahabat pembaca. Dia menanyakan secara singkat, seperti apa karakter unggul dari credit union. Nah, kali ini saya akan menampilkan hasil analisis dan pengembangan saya akan pertanyaan sahabat saya tadi. Bahkan tidak saja untuk credit union, tapi juga perusahaan dalam bidang apapun.

Sejak beberapa tahun lalu, beberapa studi telah dilakukan untuk menentukan seperti apa calon credit union atau perusahaan ideal itu. Saya dan teman-teman dalam sebuah komunitas yang peduli dan mencintai credit union, bekerja sama dengan para penilai psikologi professional telah menghabiskan banyak waktu dan pikiran untuk mencari calon credit union yang terlihat akan berhasil.

Untuk memahami seberapa baik credit union potensial yang akan menjalankan sebuah sistem manajemen profesional tertentu, kita sebaiknya mempertimbangkan 4 karakter utama dari credit union sukses. Credit union (mungkin dalam hal ini Inkopdit) akan lebih bijak bila membuat satu sistem peringkat guna menemukan credit union selama proses kualifikasi sejauhmana mereka mengikuti sistem kualifikasi. Di credit union selama ini telah dikembangkan beberapa sistem manajemen pengembangan credit union, seperti yang terakhir Acces Branding.

Nah, berikut adalah apa yang saya maksud dengan karakter unggul credit union.

Indonesia dan Credit Union: Sebuah Proyek Bersama

Posted: Rabu, 22 April 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
2

Tiap saya memikirkan Indonesia, tiap itu pula saya menemukan cinta yang rumit. Saya ingin melepaskan diri dari negeri ini. Saya ingin berhenti membaca koran, menonton televisi, mendengar gosip politik apalagi selebritis, saya ingin menjauh. Apalagi hari-hari ini ketika rasanya semua serba tak pasti. Para elite politik bersaung berebut jabatan, orang-orang baru meminta dipilih, koruptor kok tak habis-habisnya.

Tapi saat keinginan itu muncul, saat itu pula saya tidak bisa menghindar. Indonesia itu selalu menempel dalam pikiran, dimanapun, kapanpun. Indonesia membetot saya terus melotot, menyaksikannya tertatih, mendengar gemuruh ketidakpastiannya.

Setiap saya pesismitis, secara paralel muncul optimisme. Bagaimanapun, negeri ini masih menyimpan harapan, bagaimana pun saya tetap ingin suatu saat melihat tanah air ini bangkit menuju kegemilangan. Setiap saya menampik Indonesia, saat itu pula saya membangun sebuah kesadaran, sebuah harapan, karena saya punya anak-anak yang tak mungkin saya pisahkan dari tumpah-darahnya. Toh saya mungkin bisa melepaskan diri dari siapapun, orang-orang di masa lalu dan masa sekarang dalam hidup saya, tapi bagaimana dengan sejarahnya?

Saya, dan kami sekeluarga, mungkin bisa saja menghapus nama Indonesia dari KTP. Lalu tinggal di sebuah desa tua di Kyoto, menyewa apartemen murah di Bruges, bekerja apa saja di Ohio. Tapi apakah saya bisa melepaskan Indonesia? Ketika saya bandara Svarnabhumi, Bangkok, saya tercenung menunggu pesawat. Saya lihat orang di sana yang tertib, kota yang bersih, jadual yang tepat. Dan saya membandingkannya dengan Indonesia. Begitu saja, tanpa saya paksa dan rencanakan di kepala. Indonesia menyembul ketika saya terpesona dan kepincut negeri lain.

CU-aholic

Posted: Rabu, 01 April 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Senang rasanya banyak tanggapan dari teman-teman saya lewat blog maupun facebook tentang tawaran Credit Union Becomes Horizontal. Ini yang kemudian menginspirasi munculnya tawaran baru lagi, bagaimana jika kita bisa menciptakan CU-holic bagi pelanggan kita?

Saya menggambarkan jika seandainya credit union sudah seperti layaknya narkoba. Awalnya penasaran, karena selalu menjadi bahan pergunjingan teman di kantin, sela-sela meeting, atau saat SMSan. Lalu Anda iseng mencobanya dengan bergabung dan 'membuat' account secara fisik di salah satu credit union. Lalu Anda tanpa sengaja menikmati setiap produk dan servis yang ditawarkan oleh credit union tersebut. Anda mulai menikmati pinjaman yang diberikan, merasakan betapa besar manfaat menabung dengan berbagai jenis tabungan, dan sebagainya dan sebagainya...

Begitu keasyikan, Anda pun mulai merasa banyak waktu Anda terambil untuk credit union. Credit union pun menjadi peringkat satu dalam list pengembangan diri Anda mengalahkan pacar, bahkan istri/suami (juga selingkuhan…hehehe). Dan pada akhirnya sampai pada suatu titik dimana Anda tak berdaya lagi untuk keluar dari pengaruh “medan magnet” credit union.

Begitu banyak waktu Anda habiskan untuk “fly” (tripping juga kalee…) di dunia credit union. Kemanapun dan dimanapun otak Anda terus memikirkannya. Anda seperti berada dalam pengaruh “guna-guna” credit union. Sejam saja tak berbicara dan mendapatkan info tentang credit union, rasanya mau kiamat, Anda menjadi begitu resah, tidak konsen saat meeting dengan rekan kerja di kantor. Sama rasanya dengan Anda yang sedang gila facebook.

Anda juga dihantui “kangen luar biasa” ketika sesaat saja tidak bertemu, bercengkrama, dan berdiskusi dengan teman-teman Anda di credit union. Hidup Anda menjadi hampa ketika Anda tidak berada di titik fokus sorotan teman-teman credit union Anda (well… “celebrity syndrome” or “narcissistic disease”).

Inilah suatu titik dimana Anda terjangkit penyakit yang cool abis: CU-aholic.

Mau tahu Anda terjangkit CU-aholic?

Credit Union Becomes Horizontal

Posted: Minggu, 22 Maret 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Judul blog ini sebenarnya terinspirasi dari buku karya Mas Yuswohady, teman saya dari Markplus, CROWD, Marketing Becomes Horizontal. Inspirasinya simple sekali, credit union sebenarnya sudah sejak dulu horizontal, hanya saja konsep dan strateginya bagaimana, ini yang jadi permasalahan dan pertanyaan.

Tapi sahabat sekalian perlu memerhatikan hal berikut ini.

McCain vertical, Obama horizontal
MTV vertical, MySpace horizontal
Britannica vertical, Wikipedia horizontal
Windows vertical, Linux horizontal
Internet Explorer vertical, FireFox horizontal
CNN vertical, Blogger.com horizontal
Websites vertical, blog horizontal
Salesman vertical, Evangelist horizontal
One to many vertical, Many to many horizontal



So, AWAS!!!!


... horizontal BEATS vertical!!


Obama beats McCain
MySpace beats MTV
Wikipedia beats Britannica
Linux beats Windows
FireFox beats Internet Explorer
Blogger.com beats CNN
Blog beats Websites
Evangelist beats Salesman
Many to many beats One to many


Who are the next victims?