Bangkit dengan Lentera Jiwa

Posted: Kamis, 31 Oktober 2013 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Bulan ini adalah bulan yang sangat kental dengan nuansa kebangsaan dan kepahlawanan. Tepat pada tanggal 10 November nanti adalah Hari Pahlawan. Ditilik dari momen besar itu, sudah saatnya kita berkaca agar momen tersebut tak lagi berakhir sebagai sebuah seremonial belaka.

Kepahlawanan (heroisme) sudah seharusnya dijadikan sebagai batu pijakan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Dan tentunya, semangat untuk turut berjuang membangkitkan negeri harus terus dipelihara dan dikembangkan.

Sayangnya, heroisme negeri ini masih saja menjadi tumpukan masalah yang seperti tidak kenal henti. Misalnya, 'pembajakan' otak brilian generasi muda bangsa dengan penawaran pendidikan tinggi dan pekerjaan mapan di luar negeri yang terus terjadi. Kemudian, 'pembajakan' perkembangan otak manusia dengan berbagai kemajuan teknologi yang 'merusak'. Di sisi lain, kualitas mental sumber daya manusia kita masih perlu digugah dan dipertajam lagi untuk membangkitkan dan membangun negeri. Sebab, kemiskinan mental masih terjadi di sana-sini.

8 Sosok Kelas Menengah Indonesia

Posted: Selasa, 03 Juli 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Bagaimana sosok kelas menengah Indonesia?
Apakah betul mereka hedonis?
Apakah betul mereka hanya peduli dengan urusan pribadi mereka?
Atau seperti banyak dilansir di surat kabar, apakah betul mereka acuh tak acuh dengan persoalan negaranya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melalui tulisan ini saya akan tampilkan hasil riset Center for Middle Class Studies (CMCS) - lembaga riset yang dirintis oleh Guru Marketing saya, Yuswohady. Hasil riset ini sempat kami diskusikan beberapa hari lalu melalui twitter. Ini merupakan studi kualitatif untuk memotret sosok mereka. Hasilnya adalah 8 sosok konsumen kelas menengah Indonesia seperti digambarkan dalam diagram segmentasi berikut (lihat gambar). Bagaimana karakteristik dari 8 sosok tersebut? Berikut ini uraiannya.






Growth Mindset

Posted: Rabu, 20 Juni 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Selamat Pagi, Sahabat!

Februari 2012 lalu, salah satu saudara saya mengikuti yudisium di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). Dia bergabung dengan sekitar seribu orang peserta yudisium, yang terdiri atas lulusan S-1, S-2, dan S-3. Hebatnya dia berada di antara 40 anak dari MMUI yang lulus dengan prestasi cum laude. Bagi saya yang menjadi saudaranya pun ikut bangga, meski ada 2 orang lain di antara 40 anak itu yang lulus dengan IPK sempurna (4,0), bahkan katanya salah seorang yang lulus dengan IPK sempurna itu berusia paling muda, 21,5 tahun. Dahsyat!!

Berita menggembirakan dan membanggakan di atas menjadi menarik perhatian saya ketika beberapa jam lalu saya membaca sebuah release terbaru yang dikeluarkan oleh FBI tentang latar belakang dan perilaku orang-orang terkenal. Salah satunya siapa lagi kalau bukan mendiang Steve Job. Laporan mengenai Steve Jobs terbaca jelas, ditulis oleh analis yang terkesan tidak senang terhadap mendiang (wajar saja, karena menurut orang dalam Apple, petugas FBI yang ditugasi wawancara dibuat Jobs harus menunggu lebih dari tiga jam sebelum diterima untuk sekadar wawancara). Namun demikian, penulisnya berusaha memberikan data-data obyektif sehingga terkesan Jobs bukan seorang yang cerdas.

Woman 3000

Posted: Kamis, 14 Juni 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Wanita adalah konsumen yang sangat powerful. Survei di seluruh dunia menunjukkan, secara keseluruhan wanita menguasai 85% pembelian produk dan layanan mulai dari makanan, mobil, hingga layanan kesehatan. Wanita menguasai 93% pembelian makanan dan obat tanpa resep (OTC); 92% liburan keluarga; 91% pembelian rumah baru; 89% pembukaan rekening bank; 80% layanan kesehatan; dan 66% pembelian komputer.

Karena sangat penting, baik sebagai pengambil keputusan pembelian (decision maker) maupun yang mempengaruhi (influencer), bukan rahasia lagi jika konsumen wanita menjadi incaran para pemasar
Tapi di balik potensi pasar wanita yang demikian luar biasa, terdapat challenge yang luar biasa pula, apalagi untuk konsumen wanitas kelas menengah. Di tengah daya beli yang tinggi, konsumen wanita kelas menengah (untuk singkatnya sebut saja, Woman 3000) memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (knowledgeable) dan lebih terkoneksi secara sosial (socially-connected). Berikut adalah beberapa karakteristik dari Woman 3000 yang saya amati. 

Bola Mania

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Bola mania”, sebutan saya dan juga media untuk para penikmat dan penggila sepak bola (soccer consumer), adalah pasar yang sangat menggiurkan tak hanya bagi tim dan klub sepak bola, tapi juga bagi merek Anda. Merek apapun, mulai dari yang terkait dengan sepak bola (baju, sepatu, dan perlengkapan sepak bola); yang terkait secara tidak langsung (snack, kacang, minuman dalam kemasan, kamera, TV); hingga yang sama sekali tidak terkait (ponsel, mobil, laptop, bank, maskapai penerbangan, termasuk credit union).

Ya, karena sepak bola adalah magnet yang luar biasa powerful dalam menarik perhatian jutaan konsumen. Semua orang kepincut pada olah raga satu ini. Di Indonesia misalnya, hampir semua lapisan masyarakat suka bola. Ada yang hard core alias mereka yang fanatik mencintai bola sampai ke ubun-ubun. Ada yang cintanya angot-angotan, alias suka bola kalau pas ada World Cup atau Euro Cup seperti sekarang.


I Love You Full, Sintang!: The Real Marketing @BOP

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 6-25 Juni 2012, saya habiskan waktu di Bukit Kelam, Sintang, sebuah wilayah eksotis dengan ciri sebuah gunung batu hitam luar biasa besar (saya belum pernah melihat gunung batu sebesar itu sebelumnya), sekitar 20 kilometer dari kota Sintang, Kalimantan Barat. Menjangkau tempat ini dari Yogyakarta butuh perjuangan lumayan berat bagi saya pribadi. Dari Pontianak sebenarnya ada 2 pilihan untuk menjangkau Sintang dan Bukit Kelam, jalur darat dan jalur udara. Untuk jalur udara dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit, repotnya tidak setiap hari ada penerbangan rutin dari Pontianak menuju Sintang maupun sebaliknya.

Dengan kondisi seperti ini, akhirnya tanggal 6 Juni 2012 kemarin saya menggunakan jalur darat menuju Sintang dari Pontianak, dengan waktu tempuh hampir 9 jam. Perjalanan darat ini benar-benar menguras energi dan stamina saya, bahkan saya dipaksa untuk ‘kalah meski belum menyerah’ dengan medan seperti ini. Fokus saya ketika sampai di Bukit Kelam sekitar pukul 2 dini hari tanggal 7 Juni 2012 adalah tidur senyenyak mungkin, karena pada hari yang sama jam 8 pagi acara sudah siap menunggu untuk dimulai.


Overconnected Consumer

Posted: Senin, 28 Mei 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Ada kebiasaan “jelek” yang selalu saya temukan saat meeting dengan klien, mitra kerja, atau siapapun. Di ruangan, saat meeting bergulir Blackberry sudah stand-by di depan masing-masing peserta meeting (ups, tentu saja BB dalam keadaan hidup). Tangan kanan memegang balpoint agar mereka terlihat serius, tangan kiri gelisah luar biasa layaknya gadis yang sedang kasmaran.

Begitu ada salah satu peserta meeting yang angkat bicara, maka si tangan kiri pun mulai sigap bergerilya menerkam BB. Secepat kilat jari-jemari lincah menari di atas tuts-tuts BB dan saat itu pula mata mulai juling. Satu melirik ke layar BB, satunya lagi penteng ke peserta lain yang sedang bicara. Otak pun terbelah menjadi dua, pertama ke email-Twitter-Facebook; kedua ke apa yang diomongkan peserta lain. Karena itu seringkali, terjadi saat suasana meeting lagi serius-seriusnya, ada saja satu atau beberapa peserta yang senyum-senyum kecil sendiri.

Tentu saja ber-BB ria selama meeting adalah kebiasaan buruk dan tidak sopan karena tidak menghargai peserta meeting lain. Tapi tak tahu kenapa, makin lama saya amati kebiasaan ini semakin merajalela nyaris menjadi budaya meeting baru yang kita lestarikan bersama. Saya tahu persis para peserta meeting itu umumnya orang-orang super sibuk sehingga email harus cepat dijawab, SMS harus cepat direspons, mention di Twitter harus cepat di-retweet, beragam berita harus diikuti.

Kebangkitan Nasional II

Posted: Kamis, 24 Mei 2012 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Kebangkitan Nasional I adalah bangkitnya rasa dan semangat persatuan, nasionalisme dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kebangkitan Nasional II adalah bangkitnya rasa dan semangat persatuan, nasionalisme, dan kesadaran untuk menjadi negara besar di dunia. 
The Great Indonesia!
 


Hampir semua lembaga penelitian bergengsi global telah meramalkan Indonesia akan menjadi bangsa besar di dunia karena kekuatan ekonominya. Euromonitor (2010) meramalkan tahun 2020 Indonesia menempati urutan ke-12 kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Di tahun 2050 Indonesia kian perkasa, karena menurut Goldman Sach (2008) Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar ke-7 di dunia mengalahkan Jerman, Inggris maupun Jepang. “Welcome the Great Indonesia!”

Melalui tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa pilar yang menopang kemajuan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi besar di dunia tersebut adalah kelompok masyarakat kelas menengah. Kalau kita mengambil definisi kelas menengah dari Asian Development Bank (ADB), adalah masyarakat dengan pengeluaran perhari sebesar USD2-20, maka saat ini mereka telah mencapai jumlah sekitar 135 juta atau hampir 60% masyarakat kita. Mereka tumbuh pesat sekitar 8-9 juta orang pertahunnya. Karena itu Kebangkitan Nasional II tak bisa dilepaskan dari kebangkitan kelas menengah kita.