HCS, MSD!

Posted: Kamis, 09 Juli 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Hidup Cuma Sekali, Mesti Sukses Dong!Begitu salah seorang kawan menegaskan prinsip hidup dan perjuangannya. Dan saya sangat terkesan. Pernyataannya mempesona. Saya bahkan terbius dengan kata-kata pendek itu. Ini suatu perumusan yang jenius. Sebuah cara mengetuk pintu otak yang ciami, rancak bana, anggun, sekaligus berwibawa. Ketukannya masuk ke belahan kiri, meluncur ke belahan kanan otak, lalu menukik menuju hati.

Bagaimana tidak? Ia mulai dengan menunjukkan kesadarannya. Ia sadar sekali bahwa hidup cuma sekali. Ya, hidup cuma sekali. Walau kita berkali-kali mandi, berkali-kali makan dan minum, berkali-kali tidur dan bangun, berkali-kali jatuh cinta atau patah hati, berkali-kali ganti baju-kaos-sepatu-sandal-handphone-motor-mobil-rumah, berkali-kali baca buku, berkali-kali menulis artikel, berkali-kali jalan-jalan kemana-mana, berkali-kali kena tipu atau justru menipu, berkali-kali dipukul atau memukul, berkali-kali sehat atau sakit, berkali-kali tertawa atau menangis, dan berkali-kali dalam bermacam-macam hal, tapi hidup tetap cuma satu kali saja.

Buat saya, pesona 'HCS, MSD!' - singkatan dari Hidup Cuma Sekali, Mesti Sukses Dong! tadi - bukan hanya karena soal 'sekali' itu. Soal yang lebih penting adalah bahwa yang sekali itu adalah 'hidup'. Kata pertama itu tidak tergantikan. Coba ganti dengan 'mati', sehingga menjadi Mati Cuma Sekali, Mesti Sukses Dong!. Pasti tidak nyambung, kan? Kata 'hidup' dalam 'HCS, MSD!' jelaslah tak tergantikan. Mau digantikan dengan kata apa, coba?

Kata 'hidup' mengingatkan saya pada Pam Stenzel, seorang anak yang lahir dari benih perkosaan di Amerika Serikat. Ia pernah memberikan kesaksian yang membuat hidup setiap orang yang mendengarkannya akan menjadi lebih hidup.

Menjadi Pemasar Sukses dengan 3P

Posted: Rabu, 08 Juli 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

He who reigns within himself, and rules passions, desires, and fears, is more than a king.- Mereka termasuk orang-orang yang lebih baik dibandingkan raja, karena dapat mengontrol diri mereka sendiri, mampu mengarahkan keinginan ke arah yang positif, dan pandai mengendalikan ketakutan mereka.

John Milton
John Milton menandaskan bahwa kesuksesan benar-benar membutuhkan kesiapan mental dan optimisme, meliputi semangat, keuletan, dan kesabaran. Ketiga hal itu dapat dipupuk melalui berbagai cara, misalnya melalui keluarga, lingkungan sosial yang kondusif, maupun dari brbagai sarana misalnya dari film. Dua film berikut ini berasal dari kisah nyata dan telah menjadi inspirasi banyak orang untuk meraih keberhasilan, khususnya di bidang pemasaran.

Dalam sebuah film berjudul Door To Door (2002) dikisahkan tentang seorang tokoh bernama Bill Porter. Ia dilahirkan dengan cacat bawaan bernama cerebral palsy, di antaranya ia mengalami gangguan fungsi tangan kanan dan berjalan pincang. Ia pun sulit berbicara, dan kalau pun dapat berbicara selalu meneteskan air liur. Tetapi dengan penuh kasih sayang ibunya selalu memberikan motvasi. Alhasil, meskipun tumbuh menjadi pemuda yang cacat secara fisik, tetapi Bill Porter mempunyai ketekunan, kesabaran, dan semangat yang tinggi.

Belajar dari Yin dan Yang

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0



Gambar atau lambang Yin Yang berbentuk lingkaran yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu warna putih dan warna hitam. Dalam warna putih masih terdapat lingkaran kecil berwarna hitam, dan begitu juga sebaliknya, di bagian warna hitam juga terdapat lingkaran kecil berwarna putih.

Ketika saya makan siang di suatu restoran China yang mengedepankan menu mie di seputaran Denpasar, Bali, saya menemukan sesuatu yang biasa namun unik. Gambar Yin Yang terpampang besar di depan pintu masuk. Dalam hati sambil menunggu menu yang saya pesan datang, saya mencoba mengurai beberapa hal terkait dengan 'tampilan' Yin Yang yang sebenarnya juga sudah banyak diketahui oleh kita.

Konsep Yin Yang telah ada ribuan tahun yang lalu bersumber dari Kitab Peubahan. Yin dapat disamakan dengan atribut gelap, krisis, bencana, sedih, perempuan, negatif, pasif, dingin, dan lain-lain. Sedangkan Yang mempunyai atribut tenang, gembira, aktif, laki-laki, positif, panas, dan lain-lain.

Walaupun gambar Yin Yang sangat sederhana, namun bagi saya, ia menjelaskan banyak hal terutama mengenai kehidupan ini.

What's the Meaning of Promotion?

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Di suatu hari Minggu, ketika sedang mengantri keluar dari sebuah lapangan parkir, saya melihat ada seorang pria yang memegang brosur dan membagi-bagikan kepada setiap mobil yang membuka jendela. Karena ingin tahu, sayapun ikut membuka jendela dan menerima brosur tersebut. Segera saya lihat dan ternyata adalah brosur sebuah restoran yang sedang melakukan launching promotion. Restoran ini bukanlah restoran baru tetapi baru mulai menjual makanan Dim Sum. Untuk mempromosikan Dim Sum inilah maka restoran tersebut melakukan launching promotion. Di brosur tertulis discount 50% untuk masa waktu tertentu.

Karena letak restoran tersebut tidak terlalu jauh, maka saya sekeluarga segera mengarahkan mobil kami ke restoran tersebut. Kami segera memesan jenis makanan yang memang sering kami pesan jika makan Dim Sum. Setelah makan selesai, kami meminta bon makan dan setelah datang, jumlahnya tidak mencantumkan discount. Saya segera bertanya bukankah sekarang sedang ada discount 50%. Pelayan segera menjawab bahwa memang ada discount tetapi dalam bentuk cash back, diberikan voucher untuk dipakai pada makan berikutnya. Dalam hati saya menggerutu karena ternyata harus membayar harga penuh dulu baru di kunjungan berikut mendapat discount. Saya lalu membayar dan menunggu kembalian serta voucher discount. Begitu voucher datang, ternyata voucher tersebut merupakan kelipatan Rp 20 ribu dan hanya mendapat 2 voucher atau setara dengan Rp 40 ribu, padahal kami makan lebih dari Rp 90 ribu. Jadi discount yang didapat kurang dari 50%. Sayapun menggerutu untuk kedua kalinya.

Kerja Adalah Kehormatan

Posted: Selasa, 07 Juli 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah cafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

'Om beli bunga, Om.'
'Tidak Dik, saya tidak butuh', ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.
'Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om', rayu si gadis kecil.

Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasyikannya si pemuda berkata, 'Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.'

Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar cafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari cafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.

'Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.' Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

Kuberikan Ketika Masih Hidup...

Posted: Senin, 06 Juli 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Suatu ketika seorang yang sangat kaya bertanya kepada temannya.

'Mengapa aku dicela sebagai orang yang kikir? Padahal semua orang tahu bahwa aku telah membuat surat wasiat untuk mendermakan seluruh harta kekayaanku bila kelak aku mati.'

'Begini', kata temannya, 'akan kuceritakan kepadamu tentang kisah babi dan sapi.'

Suatu hari babi mengeluh kepada sapi mengenai dirinya yang tidak disenangi manusia.
'Mengapa orang selalu membicarakan kelembutanmu dan keindahan matamu yang sayu itu?', tanya babi. 'Memang kau memberikan susu, mentega dan keju. Tapi yang kuberikan
jauh lebih banyak. Aku memberikan lemak, daging, paha, bulu, kulit. Bahkan kakiku pun dibuat asinan! Tetapi tetap saja manusia tak menyenangiku. Mengapa?'

Sapi berpikir sejenak dan kemudian menjawab, 'Ya, mungkin karena aku telah memberi kepada manusia ketika aku masih hidup.'

Mengubah Cacian Menjadi Kekaguman

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Menjadi besar tanpa penderitaan sekaligus cacian orang, itulah kemauan banyak sekali anak muda. Dan kalau memang kehidupan seperti itu ada, tentu ada terlalu banyak manusia yang juga menginginkannya. Sayangnya wajah kehidupan seperti ini tidak pernah ada. Sehingga jadilah cita-cita menjadi besar tanpa penderitaan hanya sebagai khayalan manusia malas yang tidak pernah mencoba.

Ini serupa dengan khayalan seorang sahabat Amerika yang bertanya, 'Kenapa Yesus tidak lahir di Amerika di abad ke-21 ini?' Rekan lainnya sesama Amerika menimpali sambil becanda, 'Memangnya ada wanita Amerika yang masih perawan?' Namanya juga canda, tentu tidak disarankan untuk memikirkannya terlalu serius. Apalagi tersinggung.

Namun becanda atau tidak, serius atau sangat serius, kisah-kisah manusia kuat dan terhormat hampir semuanya berisi kisah-kisah penuh cacian sekaligus penderitaan. Sebutlah deretan nama-nama mengagumkan seperti Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama. Semuanya dijadikan kuat sekaligus terhormat oleh penderitaan.

Maafkan Saya Tuhan

Posted: Minggu, 05 Juli 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Seutama-utama amal, adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam sanubari saudaranya, dengan membebaskannya dari kesulitan,...

Sebuah masa, ketika saya duduk di bangku SMA.

'Mas Ento', biasa saya menyebutnya. Seorang lelaki yang tidak lagi muda, penjual bakso keliling di desa tempat saya tinggal. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legam tanpa ekspresinya. Jarang sekali beliau tersenyum, hanya sepatah kata khasnya yang sering singgah menyapa saya 'Ento', sebuah kata yang diucapkannya ketika saya meminta 'Mas, jangan pakai kecap, yah!'. Karena beliau orang jawa, 'henteu' yang berarti 'tidak' dalam bahasa Sunda itu terucap 'Ento'.

Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Hanya karena rasa iba, saya menjadi langganannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri di bawah pohon jambu dekat lapangan tempat banyak anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli.

Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Tidak perlu lagi saya bersusah payah bertanya. Saya tahu kenapa senyumannya mahal terkembang. Saya sangat faham, bias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang. Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan sebuah episode kedzaliman. Rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya pahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak di jalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya 'kurang ajar', tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan.

Memaknai Semua Hal Kehidupan

Posted: Kamis, 02 Juli 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

'Jangan sekali-kali menganggap sempurna suatu inspirasi kalbu yang buahnya belum engkau ketahui. Tujuan dari bergumpalnya awan bukanlah turunnya hujan, melainkan tumbuhnya bebuahan.'
Mutiara Al Hikam

Dalam manajemen keindahan hidup kita, segala sesuatu inginnya kita atur sesuai planning dan kemauan (nafsu) kita. Kita inginnya hidup nikmat, hidup penuh berkah, hidup penuh berlimpah, hidup penuh sapa dan tawa dari sekeliling kita.

Dalam kondisi ideal, memang itulah yang kita inginkan. Akan tetapi, tidak semua jalan yang kita tempuh, semuanya - beraspal - manis dan indah sesuai dengan yang kita inginkan, bukan?

Ada hal-hal yang memang perlu kita lewati - kalanya jalan itu sedikit terjal, bergelombang dan suasana yang tidak bersahabat. Bahkan mungkin lebih dari itu. Sebagai seorang manusia, tentu manusiawi jika kita terkadang - sedikit manja - mengeluh kepada si-Empunya hidup.

'Mengapa Tuhan menimpakan ini kepada saya?' Dan banyak frase kata serupa untuk me-release kejengkelan kita kepada Tuhan, tentang mengapa Tuhan tidak sayang lagi kepada kita.