0
Terus terang, sampai kemarin saya masih mendongkol. Cenderung kesal, bahkan marah. Seorang teman lama, yang dulu pernah saya bantu beri modal usaha dan kini kabarnya menjadi seorang manajer di salah satu hotel mewah di Nusa Dua, Bali menyambut dingin jabat tangan saya, saat tak sengaja bertemu di hotel tempatnya bekerja.
Sikapnya terasa angkuh, seolah saya bukan siapa-siapa. Bicaranya kikir kata, seperlunya, dan agak ketus. Sepertinya ingin segera menyudahi perjumpaan. Jangan-jangan dia kira saya mau mengutang, atau malah minta uang. Apa tak ingat, dulu makan pagi-siang-malam saya juga pernah bayari waktu sama-sama kerja di Jimbaran? termasuk rokok, saya traktir. Bahkan modal yang saya pinjamkan belum ia kembalikan seluruhnya.
Selama seminggu tidak sekejap pun ia lepas dari pikira. Sakit rasanya hati ini. Saya ceritakan kejadian itu pada setiap teman. Celaka, saya sempat menyumpahi agar karirnya habis. Biar tahu rasa. Sebagian teman-teman merasa aneh, kok saya berubah menjadi amat sangat sensitif. Seorang sahabat coba saya hapus dari memori kebersamaan saya. Apa memang saya layak berbuat seperti itu? Tidakkah saya terlalu egois?
Sikapnya terasa angkuh, seolah saya bukan siapa-siapa. Bicaranya kikir kata, seperlunya, dan agak ketus. Sepertinya ingin segera menyudahi perjumpaan. Jangan-jangan dia kira saya mau mengutang, atau malah minta uang. Apa tak ingat, dulu makan pagi-siang-malam saya juga pernah bayari waktu sama-sama kerja di Jimbaran? termasuk rokok, saya traktir. Bahkan modal yang saya pinjamkan belum ia kembalikan seluruhnya.
Selama seminggu tidak sekejap pun ia lepas dari pikira. Sakit rasanya hati ini. Saya ceritakan kejadian itu pada setiap teman. Celaka, saya sempat menyumpahi agar karirnya habis. Biar tahu rasa. Sebagian teman-teman merasa aneh, kok saya berubah menjadi amat sangat sensitif. Seorang sahabat coba saya hapus dari memori kebersamaan saya. Apa memang saya layak berbuat seperti itu? Tidakkah saya terlalu egois?
