Darimana Datangnya Kegagalan?

Posted: Selasa, 10 Maret 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Gagal dalam berusaha seringkali berujung pada usaha mencari kambing hitam persoalan. Tapi, sudahkah kita benar-benar belajar dan mencari sumber kegagalan itu?

Suatu ketika, dalam sebuah mailing list saya, terdapat sebuah surat bernada keluhan. Inti surat itu kurang lebih berbunyi begini: 'Saya sudah berusaha berkali-kali menanamkan sikap tidak takut gagal, hingga menjalankan berbagai konsep sukses dari para mentor dan guru sukses yang saya ikuti seminarnya dan baca bukunya. Tapi, sampai saat ini, jika dihitung-hitung, saya sudah tertipu dan gagal beberapa kali. Saya sudah coba usaha yang lain dan gagal lagi. Sampai saat ini, saya bahkan sudah minus. Berapa kali kegagalan itu sebenarnya harus kita alami sebelum mencapai sukses yang kita inginkan?'

Berbagai jawaban mengalir. Ada yang mencoba menghibur. Ada yang menyarankan untuk ganti usaha yang lebih minim risiko. Ada pula yang mengatakan bahwa memang kegagalan itu sudah jadi kudapan bagi pengusaha. Namun, tidak ada satupun yang memberikan jawaban pasti tentang berapa kali kegagalan itu mesti dialami dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai sukses sebenarnya.

Marketing and The City

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Sudah pernah nonton Sex and the City: The Movie? Saya memang baru saja bisa menontonnya beberapa hari lalu. Padahal, waktu seriesnya dulu, saya tidak pernah nonton sekalipun. Tapi, kan series soap opera itu memang menghebohkan. Terutama, kaum perempuan kita yang young adult, yang terpana akan gemerlap New York alias Manhattan. Saya masih ingat, bagaimana waktu itu, tiap minuman yang diminum di series tersebut mendadak juga dicari orang di Indonesia. Begitu juga Museum Guggenheim yang memang keren di Manhattan jadi buah bibir di sini. Pokoknya ngetren abis dech ...

Padahal, ceritanya cuma muter-muter empat karakter. Yaitu, Carrie, Miranda, Charlotte, dan Samantha. Masing-masing karakter punya keunikan. Mereka adalah lajang umur tiga puluhan yang ogah nikah. Tapi, mereka justru sibuk berpetualang dengan cinta dan seks di kota metropolitan dunia tersebut. Begitu gencarnya hiruk-pikuk dibicarakan orang dan media massa, akhirnya saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh.

Di marketing, itulah yang disebut kekuatan word of mouth yang bersifat horizontal. Sehingga, ketika versi layar lebarnya dibuat, Sex and the City gampang sekali meledak. Orang sudah mengenal judulnya, sudah kenal karakternta, dan sudah tahu bahwa film itu akan keren abis.

Saya jadi makin tertarik untuk nonton ketika salah satu teman saya di facebook menulis di status update-nya: Wow ... I like Sex and the City so much ... the shoes, the bags, the dress...

Belajar dari Trowulan

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Masih ingatkah Anda perasaan yang muncul, saat membaca berita rusaknya situs Trowulan akibat pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM)? Mengapa ada rasa trenyuh, sakit, dan pedih?

Mungkinkah membangkitkan kejayaan masa lalu dengan merusak jejak kejayaan itu sendiri? Majapahit bukan sekadar cerita masa lalu. Kepadanya Indonesia bercermin. Meski wilayah Nusantara di masa Gajah Mada jauh lebih luas daripada wilayah negara kita sekarang, gagasan persatuan dan kesatuan itu tak pelak menjadi batu penjuru kita sebagai bangsa. Jadi, kalau setiap tahun 6.2 ha lahan situs yang demikian berharga dibiarkan terkorbankan oleh kepentingan 'hari ini', barangkali kita mesti berpikir ulang: apakah kita masih pantas menyebut diri sebagai bangsa, kalau tidak kunjung punya cukup kemauan untuk menjaga aset-aset berharga yang membuat kita berdiri tegak sebagai bangsa. 'Selamatkan Harta Karun Majapahit' mengingatkan kita akan hal itu.

Momen Spesial dalam Bisnis

Posted: Kamis, 05 Maret 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Kejadian berikut ini terjadi, ketika saya menginap di sebuah hotel bintang lima di Surabaya, kita-kira dua tahun lalu. Peristiwa ini sungguh mengesankan dan kita semua bisa belajar beberapa hal penting di dalamnya.

Saya tiba di Surabaya dengan penerbangan malam dan check-in di hotel tersebut larut malam. Saya dijadualkan untuk mengikuti seminar pada pagi berikutnya. Tetapi, kemeja yang harus saya pakai besok ternyata sudah kusut. Jadi, saya menelepon resepsionis, memberitahukan bahwa saya ingin meminjam seterika untuk menggosok baju tersebut. Staf di resepsionis mengatakan, dia akan mengontak bagian housekeeping secepatnya.

Tidak lama setelah itu, bagian housekeeping menelepon untuk minta maaf karena mereka tidak punya seterika untuk dipinjamkan pada malam itu, tetapi mereka mungkin bisa meminjamkannya esok pagi. Saya mengatakan bahwa hal itu tidak perlu karena jika harus meneyeterika baju besok akan terlalu terburu-buru. Lagipula saya tidak begitu membutuhkan alat itu, saya masih bisa tampil dan mengenakan kemeja tersebut karena hanya kusut sedikit. Jadi, saya berkata kepada bagian housekeeping, 'Tidak apa-apa. Saya tidak begitu memerlukannya. Terima kasih banyak'. Lalu saya menutup telepon.

The Image Is Flat

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Perkembangan aktivitas dunia maya di kota-kota besar di Indonesia, dan tentu saja dunia, benar-benar mencengangkan dalam kapasitas jumlah pemakainya. Seperti dikatakan Yuswohady dalam Crowd, perilaku individualis yang tadinya kuat jadi meleleh karena peran teknologi internet. Sekarang era Web 2.0, dimana aktivitas internet adalah aktivitas bersosialisasi dan berbincang panjang lebar. Facebook pun menjadi alat andalan untuk mencari teman-teman lama, dan ajang narsis yang terlegitimasi dalam kelompok sosial.

Diawali dengan mailing list, kemudian blog hingga pertemuan blogger se-Indonesia, lengkaplah sudah prediksi Thomas L. Friedman dalam The World is Flat. Dan itu akan terus berkembang dari yang semula di desktop, laptop, kini telah masuk melalui handphone, seperti fenomena Blackberry yang sedang kuat di Indonesia.

Pertanyaannya, seberapa jauh merek-merek harus menyikapi The World is Flat-nya Friedman dalam konteks Indonesia? Apakah mungkin gelombang dahsyat di dunia maya sudah mampu menjadi sebuah gerakan yang mampu meningkatkan penjualan? Untuk menjadi sebuah buying movement, rasanya kita sudah banyak belajar dari sederet toko online di Indonesia - dimana masih kecil sekali terjadi transaksi di sana. Tapi, untuk membangun brand awareness? Nah, mari kita bicarakan lebih lanjut.

Blackberry Cheese

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Masih ingat pager, sebuah benda sedikit lebih besar dari kotak korek api yang bisa menerima pesan apapun, dimanapun, tanpa membutuhkan sinyal asalkan lewat operator? Lebih dari 10 tahun yang lalu, alat ini begitu berjaya hingga nempel di setiap pinggang pekerja-pekerja di Indonesia. Saat itu, pager begitu prestisius karena menunjukkan bahwa pemakainya memiliki tingkat urgensi yang tinggi terhadap informasi.

Hingga kemudian tingkat eksklusivitasnya berkurang ketika pemakainya sudah begitu banyak, menerabas banyak tingkat sosial ekonomi, dan menjadi habis saat handphone muncul dengan kemampuan melakukan SMS. Hanya dibatasi oleh sinyal (saat itu, sinyal masih sebuah barang langka sehingga untuk menelepon terkadang kita harus membuka jendela mobil), handphone mampu mengirim pesan tanpa melalui perantara, tanpa harus menelepon terlebih dahulu.

Dari sekian merek pager, ada satu merek yang berusaha eksis. Merektersebut berusaha menghilangkan operator sehingga pemiliknya bisa langsung mengirim dan menerima pesan tanpa bayar. Merek itu sekarang menjadi benda prestisius kalangan profesional di Indonesia, namanya Blackberry (BB). Fungsi utama pager justru menjadi kelebihan utama BB, yaitu Blackberry Messenger.

Maka, meningkatlah permintaan BB, komunitas pun terbentuk, harga melesat sedemikian ketat. Sekadar perbandingan, di Australia harga BB Bold sekitar Rp 5,6 juta, di Indonesia harga Rp 8,5 juta pun masih antre pembeli.

Susul di Tingkungan!

Posted: Rabu, 04 Maret 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Waktu berlalu. Kita sudah memasuki tahun 2009. Beberapa dari kita mungkin menyambut tahun ini dengan harapan, antusiasme, dan perkataan, 'Saya sudah siap!' ... Beberapa lagi mungkin menghadapinya dengan perasaan campur aduk, antara gelisah dan khawatir. 'Mampukah bisnis saya bertahan?', 'Mampukah saya mencapai target penjualan saya?', dan lain-lain.

Kadang-kadang saya suka menonton F1 dan balap motor Grand Prix di televisi. Selagi menikmati balapannya, saya perhatikan banyak sekali kesamaan antara balapan F1 dan GP dengan dunia bisnis. Beberapa persamaan tersebut antara lain:

Godain Kita, dong!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Kata-kata di atas pernah menjadi kalimat yang sangat populer di kalangan anak-anak muda di negeri ini, sekalipun pada saat ini sudah jarang terdengar, bukan berarti godaan sudah sirna. Selama duonia masih berputar godaan selalu ada di tengah kita. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah mengalami digoda, hanya saja pertanyannya, apakah pernah jatuh ke dalam godaan itu atau tidak. Judul cerita kehidupan kita akan berubah saat kita terjatuh dalam godaan, dari godaan menjadi tergoda, dari saksi menjadi tersangka, ataupun bisa jadi terdakwa.

Seorang bendahara yang diserahi tanggung jawab untuk memegang sejumlah besar uang, suatu hari tergoda untuk memasukkan sebagian uang itu ke kantongnya sendiri. Dia tahu perbuatannya itu tidak akan ketahuan sampai waktu yang lama, namun dia berusaha melawan godaan itu. Sampai suatu ketika dia merasa harus menceritakan pergumulan batin yang sedang dialaminya kepada seseorang. Oleh sebab itu, dia lalu menemui mantan bendahara yang dulu duduk di posisi itu, dan menceritakan tentang semua cobaan yang ia alami, dan bagaimana dia hampir jatuh ke dalam cobaan itu. Alangkah terkejutnya dia ketika orang itu tidak mencelanya, tetapi justru meletakkan tangan ke punggungnya seperti seorang ayak kepada anaknya dan berkata, 'Saya tahu persis apa yang engkau rasakan. Saya pun dulu mengalami cobaan yang engkau rasakan saat saya menduduki posisi itu'.

Gali Potensi Kita!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Setelah lama membangun karier, bisa jadi kita tidak sadar bahwa masih ada potensi dalam diri kita yang terpendam dan belum tergali sampai sekarang. Para profesional sering mengalami kebingungan, baik pada waktu awal membangun karier dan bahkan setelah lama menjalani kariernya. Seseorang harus sadar apa yang sebenarnya ia inginkan dan apa yang perusahaan bisa berikan padanya, karena kariernya sangat tergantung akan kedua hal ini.

Kebahagiaan bisa didapat dari jenjang karier yang terous maju, tantangan dalam pekerjaan, dan pencapaian tujuannya. Kita tentu menginginkan perusahaan yang bisa memberikan semua ini. Jadi, bagaimana kita bisa tahu bahwa perusahaan tempat kita bekerja sekarang tengah menuju kebangkrutan atau kejayaan? Jawabannya bisa didapat melalui analisis sendiri tentang kebutuhan kita sendiri dan bagaimana perusahaan bisa memenuhinya. Bila jawabannya positif, maka kita sudah berada di jalur yang benar.

Mari kita tengok faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan jawaban yang kita inginkan, sekaligus tip-tip untuk menggali terus potensi diri kita.

Apakah gaya hidup kita sesuai dengan aspirasi kita?
Kita tidak bisa mengharapkan perusahaan bisa memenuhi kebutuhank kita bila kita sendiri tidak tahu apa yang diinginkan selama ini. Ini adalah kesempatan untuk menganalisis dan menemukan apa tujuan kita, dan fokus penuh padanya.

Kita bisa mulai berpikir tentang karier ideal. Apa sebenarnya pekerjaan yang kita inginkan lebih dari yang lainnya. Setelah itu coba pikirkan gaya hidup (lifestyle) yang sedang kita jalani. Ajukan pertanyaan ini pada diri sendiri: Apa yang hendak diubah dan apa yang sudah siap kita ubah?

Uang adalah yang memang paling menentukan, tetapi untuk meningkatkan revenue dan berkembang, pikirkan juga tentang komitmen saat ini dan bagaimana keadaan bisa berubah nantinya. Bagaimana hal ini bisa memengaruhi orang-orang di sekeliling kita? Perubahan bukanlah sesuatu yang perlu untuk ditakuti kemudian dihindari, tetapi kita harus benar-benar siap untuk itu. Aspirasi karier kita harus berjalan seiring dan seimbang dengan tuntutan gaya hidup kita. Pikirkan dan pertimbangkan apakah tawaran pekerjaan saat ini sudah sejalan dengan rencana-rencana masa depan kita.

Kita termasuk tipe pekerja apa?
Kebiasaan dan budaya kerja kita amat menentukan untuk bisa mendapatkan karier impian nantinya. Setiap orang bisa meraih bintang, tapi bila kita tidak bisa naik kapal luar angkasa, kita tidak akan bisa menunju bintang. Untuk bisa menggali lebih banyak potensi dalam karier, sangat penting untuk memelajari karakter dan minat kita, lalu sesuaikan dan masuki kenyataan yang ada.

Pikirkan mengenai hidup dan apa yang membuat kita bahagia - impian kita, momen-momen berharga - dan temukan apa dari semua itu yang berhubungan dengan pekerjaan atau karier. Sebagai tambahan, buatlah daftar tentang kesukaan dan ketidaksukaan serta kelebihan dan kekurangan kita dalam hal karier dan pekerjaan. Apa yang bisa kita lihat dari situ? Apakah pekerjaan dan perusahaan yang sekarang bisa memberikan tantangan yang dibutuhkan agar kita bisa merasa dan meraih kesuksesan dan kesejahteraan? Apakah pekerjaan yang sekarang bisa meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kekurangan kita? Apakah kita sudah berada dalam jalur yang benar untuk bisa meraih karier impian?

Pengertian yang mendalam tentang kebiasaan kerja serta value dari karier kita akan sangat membantu dalam membuat analisis yang lebih tepat mengenai pekerja tipe apa kita, dan apakah tujuan kita dalam karier sekarang sudah realistis? Bila belum, maka kita perlu menyesuaikannya berdasarkan gaya kerja dan apa yang ingin kita raih dalam jangka panjang.

Apakah perusahaan bertumbuh?
Kita mungkin seorang individu yang penuh dengan ide-ide cemerlang, tetapi tangga perusahaan hanya mungkin didaki apabila ada pertumbuhan di dalam perusahaan itu sendiri. Itulah sebabnya mengapa kita perlu memerhatikan apakah perusahaan tempat bekerja sekarang tengah menuju ke arah pertumbuhan yang sehat atau sebaliknya. Mengapa pertumbuhan itu penting? Bagi semua profesional, sebuah perusahaan yang tengah dan terus bertumbuh adalah pilihan ideal karena bisa menawarkan jenjang karier yang lebih luas. Sebuah perusahaan yang mempunyai fondasi yang kuat akan lebih terbuka untuk ide-ide serta lowongan untuk menampung tenaga kerja baru karena mereka mempunyai kekuatan finansial untuk itu.

Apakah perusahaan tempat bekerja sekarang baik bagi kita?
Bekerja pada perusahaan yang lebih besar mungkin bisa dijadikan pilihan, tetapi ukuran bisa menipu dalam hal ini. Perusahaan besar mungkin bisa menawarkan kemajuan, tetapi pasti dibutuhkan usaha atau kesuksesan yang lebih besar untuk dapat menampung karyawan yang begitu banyaknya. Bila ada sesuatu yang salah, posisi kita mungkin adalah yang pertama terpengaruh. Kita bisa mengukur pertumbuhan perusahaan dengan memelajari profit atau perkembangan produknya. Lihat juga bagaimana proses perekruten dilakukan dan apakah sering ada karyawan yang dipromosikan. Bila perusahaan bertumbuh, maka kita pun bisa bertumbuh.

Apakah value kita dihargai?
Nilai (value) kita sebagai karyawan sangatlah penting karena menyangkut perasaan dan harga diri sendiri serta kemampuan untuk menggali dan mengembangkan potensi di perusahaan. Singkatnya, bila pekerjaan kita tidak dihargai, value kita bagi perusahaan akan rendah dan tingkat kepuasaan kita terhadap perusahaan akan jatuh juga. Ini adalah situasi yang sangat buruk.

Gunakan waktu untuk berpikir mengenai pekerjaan dan tugas sehari-hari: Siapa saja yang mengetahui hasil kerja kita? Siapa yang menghargainya? Bila atasan kita bukanlah orang yang mengetahui hasil kerja, maka siapa yang akan menghargai hasil kerja kita tersebut? Berusahalah supaya hasil kerja kita bisa dihargai, tetapi ini bukan berarti menjilat atau mencari muka.

Kuncinya adalah untuk bisa dihargai dan bukan mencari muka. Tunjukkan hasil kerja kita pada orang lain dan biarkan orang lain yang menilai. Kita mungkin bisa mengambil tantangan lebih untuk bisa menggali lebih banyak potensi diri sendiri dan meningkatkan value kita bagi perusahaan.

Apakah ada ruang untuk mengembangkan diri?
Faktor kunci lain untuk bisa menggali lebih banyak potensi diri adalah kemampuan menjadi fleksibel, selalu mencari peluang dan solusi untuk mengembangkan diri serta mampu memotivasi diri sendiri. Bergerak maju dengan inisiatif dari kita sendiri adalah pertanda bahwa kreativitas tengah bersinar terang dalam diri kita. Kita dituntut untuk selalu berpikir ke depan. Maka, lihatlah rantai struktur organisasi di perusahaan kita, apakah ada ruang untuk bertumbuh dan mendaki tangga perusahaan yang lebih tinggi lagi.

Bila tingkat turnover rendah dan ada lowongan pekerjaan untuk bakat-bakat baru, maka tandanya masih ada ruang untuk mengembangkan diri. Jangan takut untuk memberikan ude untuk menciptakan posisi baru dalam perusahaan. Idealnya, posisi tersebut haruslah sesuai dengan bakat dan keahlian kita. Ambil langkah lebih jauh untuk terlibat dalam beberapa tugas ekstra dan bahkan beberapa proyek ekstra untuk menunjukkan potensi lebih kita ke pihak manajemen. Bila perusahaan tidak bisa menghargai atau menyadari usaga kita, carilah perusahaan lain yang bisa.

Apakah kita kompeten?
Dalam lingkungan kerja yang sangat kompetitif, keahlian kita akan sangat menentukan ke mana arah kita dan seberapa cepat kita dapat menuju ke sana. Begitu kita masuk ke suatu perusahaan, kualifikasi yang dimiliki dapat mempercepat maupun memperlambat kemajuan karier kita. Seorang profesional harus selalu sadar bahwa ia akan selalu berada dalam persaingan dengan yang lain.


Jadi, perhatikan benar-benar resume kita dan segeralah perbaiki apa yang menurut kita kurang untuk meraih karier impian. Ini adalah hal penting yang dapat memotivasi kita untuk dapat menggali lebih banyak lagi potensi diri. Setelah itu mungkin bisa dipertimbangkan untuk mengambil keahlian-keahlian khusus setelah menemukan potensi diri kita yang baru.

'Kesenangan dan kepuasan dalam pekerjaan adalah bila kita berhasil menemukan serta mengembangkan terus potensi-potensi yang ada dalam diri sendiri'.