Perluas Koneksi dan Relasi!

Posted: Rabu, 04 Maret 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Kesejatian manusia sebagai mahkluk egois, namun juga sekaligus mahkluk sosial tente membawa konsekuensi bagi manusia untuk tidak saja memikirkan dirinya sendiri, namun juga mencoba untuk membangun relasi satu sama lain. Sekecil apapun dan untuk kebutuhan atau kepentingan apapun, manusia membutuhkan 'jaringan' yang nantinya bisa membuat manusia bertumbuh sesuai impiannya. 

Tidak semua membangun relasi dan jaringan berjalan mulus, selalu ada pernak-pernik di dalamnya. Apapun itu, manusia seolah-olah harus memenuhi 'janjinya' sebagai manusia untuk tetap bersosialisasi. Artinya, secara tidak langsung manusia dituntut untuk memperluas koneksi dan relasinya sebaik mungkin. 

Cinta Itu (Tidak) Buta

Posted: Senin, 02 Maret 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya kepada sepakterjang Faisal Basri. Ekonom muda yang dikenal cerdas mengulas bidang yang dikuasainya dengan niat meluruskan hal-hal bengkok. Vokal. Kritis. Berkali-kali dia memunculkan analisis brilian untuk mengkritik kebijakan-kebijakan yang melenceng. Begitulah sang ekonom asal Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) ini dikenal publik. Dan bagi saya, saya kembali bertambah kagum ketika hampir setiap tahun dia membantu Markplus, Inc untuk memberikan analisis di bidang yang digelutinya.

Beberapa tahun lalu, bahkan dia tak segan mengungkapkan fakta tak menyenangkan soal almamaternya, FEUI. Seperti ramai diberitakan media, dia mengaku 'terluka' saat mengetahui kampus tercintanya itu mendapat order untuk melakukan penelitian dari BPPN, lembaga penyehatan perbangkan nasional. Karena, FEUI mendapatkan proyek bernilai miliaran rupiah itu tanpa tender. Ketidaklaziman yang sangat mungkin memunculkan dugaan institusi pendidikan sudah dikooptasi oleh kepentingan pemerintah.

Faisal Basri mungkin tidak bermaksud memberi kuliah dengan pernyataan itu, selain ingin meluruskan kesalahan di halaman rumahnya sendiri. Toh tanpa sadar dia memberi pelajaran bagaimana cara mencintai dengan benar. Mencintai seseorang - atau sesuatu - tak berarti harus kehilangan sikap kritis. Dia tanpa sengaja memberikan contoh bahwa justru kitalah yang harus menjadi orang pertama yang berani mengkritik orang - atau sesuatu - yang kita cintai.

Bangunlah Monumen Setinggi Mungkin

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Sahabat sekalian pernah gagal?
Pasti pernah. Meski saya percaya sahabat sekalian pasti selalu bisa keluar dari masa-masa sulit itu, toh tidak ada salahnya saya berbagi cerita berikut ini. Sharing pengalaman di saat saya sedang jatuh, down, tertekan atau bingung.

Di SMU, saya pernah ikut ekskul Kempo. Kalau jago berkelahi'kan bisa 'mbelain' cewek kojika digodain. Itu pikiran saya. Tapi itu hanya harapan. Bagaimana mungkin menguasai jurus-jurus bela diri jika saya tidak serius latihan? Bagaimana bisa 'mbelain' cewek jika saya sudah takut duluan mendengar 'cerita pemukulan' di saat ujian kenaikan tingkat?

Maka betapa terkejutnya saya ketika suatu hari, tiga sahabat kental saya menawari saya masuk panitia kejuaran Kempo se-Jawa Tengah. 'Gampang, paling cuma urus ini-itu, masak nggak bisa?', begitu pekik saya dalam hati. Ternyata ... alamak ... stres !! Karena baru pertama kali mengurus kejuaran, semua tahap menemui masalah.

Belum lagi persoalan pribadi masing-masing yang juga menguras energi luar biasa besar. Ada yang terpaksa menipu orang tuanya karena tak boleh keluar malam, ada yang bingung menjaga kondisi karena harus berlatih pun begadang, ada yang terancam tidak naik kelas, ada yang sangat ngotot hanya karena tak ingin dipermalukan teman-teman sekolah.

Kadang Jadi Manusia Itu 'Salah'

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Frodo hanya manusia biasa. Bukan ksatria, pejuang, atau pahlawan. Dia hanya seorang 'anak kecil' - yang karena takdir - diharuskan melawan kelemahannya sendiri untuk menyelamatkan bangsanya dari kutukan cincin The One. Pendeknya, Frodo harus menjadi manusia istimewa, selalu menang perang, selalu bisa keluar dari medan seberat apapun, selalu bisa melawan godaan hati kecilnya sebagai manusia biasa.

Memang, kisah petualangan Frodo hanya ada di layar lebar. Lewat film sensasional, The Lord of the Rings, keistimewaan Frodo sebagai 'manusia super' - yang bisa mengatasi segala hambatan - bisa kita nikmati sebagai sebuah tontonan. Namun, ternyata, tuntutan untuk menjadi manusia super tak hanya terjadi pada Frodo di dunia maya.

Begitu sering kita mengharapkan datangnya 'satria piningit' datang menyelamatkan dan mengembangkan credit union dan kemudian mengubahnya menjadi sebuah perusahaan dengan tampilan yang istimewa, layaknya perusahaan-perusahaan kelas dunia. Ironisnya, kita kadang mengharapkan dalam proses yang cepat (instan).

Dalam proses pengembangan bisnis masa sekarang, semua orang dituntut untuk menjadi sempurna. Tanpa kesalahan. Lihat bagaimana kita begitu sering melihat saling hujat dan kritik yang mulai tidak rasional terhadap kinerja kepengurusan dan manajemen dalam setiap rapat anggota tahunan. Seolah ajang demokrasinya credit union itu juga menjadi ajang pembantaian bagi para pengelola credit union.

Mau Jadi Macan atau Tikus?

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Waktu lulus SMU - bukannya sombong - saya kebetulan bisa masuk ke universitas negeri favorit di Yogyakarta. Saking favoritnya, banyak yang percaya bahwa kualitasnya tak kalah dengan universitas negeri di Bandung maupun Jakarta. Bahkan - entah sekadar sombong atau memang fakta - kami percaya bahwa nilai C di fakultas dan universitas saya sama dengan nilai B atau bahkan A di universitas lain. Busyet!

Terlepas dari kesombongan di atasm, faktanya memang banyak teman-teman saya yang kuliah bertahun-tahun atau malah drop-out karena nilainya kebakaran, penuh nilai 'pengulangan'. Beberapa di antara mereka - anehnya - justru sukses di tempat lain dan malah ada segelintir orang yang secara tidak terduga bisa menjadi lulusan tercepat, terbaik dan sejenisnya setelah memutuskan pindah ke universitas lain.
Saya termasuk segelintir mahasiswa yang 'tidak tahan' dan akhirnya 'melarikan diri' menghindari 'kematian dini dari kecerdasan' saya.

'Kamu lebih baik pindah', kata dosen saya ketika memberi wejangan pada saya, ketika saya divonis gagal dalam beberapa mata kuliah. 'Tak ada gunanya tetap nekat kuliah di sini jika kamu tidak mampu. Menurut saya, lebih baik kamu pindah dan menjadi macan di kandang tikus, daripada tetap kuliah di sini dan menjadi tikus di kandang macan'

Dosen saya rupanya mau mengatakan bahwa lebih baik menjadi mahasiswa berprestasi di universitas lain daripada memaksakan diri menjadi pecundang di universitas favorit. Wejangan yang dituturkan kepada semua mahasiswa yang dinilainya tidak cukup mampu mengikuti standar pendidikan di universitas tersebut. Kejam memang, tapi banyak teman-teman saya, dan tentu saya, merasakan kebenaran kata-kata keras dosen saya tadi.

Jangan Pernah Memberi Maaf Tanpa Menyertakan 'Hukuman'!

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Jahat! Kejam! Sadis!

Sepintas, begitulah makna judul di atas. Sejak kapan kata maaf - tindakan mulia yang dianjurkan oleh semua agama - harus diikuti kata hukuman? Bukankah kita - manusia - justru diminta memberi maaf sebesar-besarnya tanpa syarat? Bukankah kita diminta dengan tulus memaafkan kesalahan orang lain tanpa tuntutan apapun?

Beberapa waktu lalu, sebuah berita di Harian Kompas mungkin bisa menjelaskan maksud judul di atas. Berita itu menulis bahwa Nurul Falah, warga Jalan Tamba Raya Kelurahan Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur, memaafkan kealpaan Slamet Efendi, pembantu rumah tangganya yang mencoba merampok rumah sang majikan sehari sebelumnya.

Slamet - sudah bekerja selama 4 tahun - mengaku khilaf saat menyekap temannya sendiri yang sama-sama bekerja di rumah itu untuk mengambil televisi 29 inchi dan radio tape. Jauh dari kelaziman, Nurul sang majikan tidak marah.

Blending Sales and Service

Posted: Minggu, 01 Maret 2009 by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Salesman seringkali meletakkan kata service di belakang kata sales: after sales service. Dan itulah yang terjadi, service dimulai setelah proses penjualan selesai. Coba kita cermati ucapan Richard Santulli, CEO NetJets: 'Being able to offer nonstop service was a great selling point'. Apa artinya? Servis justru diberikan di awal, bahkan selama proses penjualan berlangsung. Sukses seorang salesman masa kini bukannya 'mendapatkan dan mempertahankan' semata-mata, melainkan 'memberi dan melayani'.

7 Alasan Mengapa New Wave Marketing = LBHI

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Strategi New Wave Marketing merupakan praktek New Wave Marketing dengan low budget high impact. Karena itu, dalam kondisi krisis seperti sekarang ini, strategi pemasaran New Wave Branding penting untuk dikedepankan karena memiliki beberapa kelebihan seperti ini.

Low Budget High Impact Branding

Posted: by R. Anang Tinosaputra in Label:
0

Badai krisis ekonomi global yang dipicu adanya resesi ekonomi di AS, telah membuat kondisi ekonomi Indonesia mendapat beragam tekanan. Para pelaku usaha pun mulai melakukan langkah efisiensi dengan memangkas anggaran pemasaran hingga 40%. Hanya sekitar 60% anggaran pemasaran yang mereka sisakan. Seiring dengan langkah efisiensi yang telah diambil, para pelaku usaha dituntut berpikir kreatif agar tetap dapat survive dan terus tumbuh.

Dalam kerangka itu, menarik untuk menyimak tawaran konsep strategi pemasaran alternatif dari BrandCredence (Markplus,Inc) yang disebut dengan Low Budget High Impact Branding (LBHI Branding). Menurut Chief Consultant, BrandCredence, Alexander Mulya, LBHI Branding yang merupakan aktivasi branding dengan anggaran yang tidak besar tapi berdampak luar biasa terhadap brand yang menghasilkan dampak 'getok tular' (horizontal conversation) dan dilakukan lewat pendekatan New Wave Marketing (mobile, experiential, social).

Berbeda dengan strategi pemasaran konvensional yang masih berada dalam Legacy Teritory dan lebih sering memanfaatkan media-media tradisional, LBHI Branding sudah beralih ke New Wave Teritory dan intensif memanfaatkan media online maupun offline atau integrasi antara keduanya.

Para pemasar tidak perlu khawatir menggunakan strategi LBHI Branding. Pasalnya, LBHI Branding tidak memerlukan investasi dana yang besar, tapi lebih memerlukan komitmen klien untuk menginvestasikan waktu, energi, imajinasi, dan pengetahuannya untuk bersama-sama mendesain strategi super kreatif dan berdampak maksimal.

Sebagai ukuran dampak keberhasilan penerapan LBHI Branding, tidak mempergunakan ukuran sales, tetapi ROI (return on investment) yang berarti bukan semata-mata return dalam konteks purchase, tetapi juga dalam bentuk awareness, image dan royalty yang lebih tinggi.